MARKET NEWS

Asing Borong Saham Tambang Logam, Nikel Jadi Primadona di Tengah Rekor IHSG

TIM RISET IDX CHANNEL 16/01/2026 13:30 WIB

Arus dana asing deras mengalir ke Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sepekan terakhir, dengan saham-saham tambang logam, terutama nikel, menjadi sasaran utama.

Asing Borong Saham Tambang Logam, Nikel Jadi Primadona di Tengah Rekor IHSG. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Arus dana asing deras mengalir ke Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sepekan terakhir, dengan saham-saham tambang logam, terutama nikel, menjadi sasaran utama.

Data menunjukkan, investor asing secara keseluruhan membukukan beli bersih (net buy) Rp3,16 triliun sepekan, seiring Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memecahkan rekor tertinggi pada perdagangan intraday di level 9.100,83 pada Kamis (15/1/2026).

Saham nikel tampil dominan dalam daftar pembelian asing. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat net buy asing terbesar, mencapai Rp712,84 miliar, sejalan dengan kenaikan harga sahamnya dalam sepekan, yakni sebesar 5,83 persen ke Rp6.350 per unit.

Minat serupa juga terlihat pada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang diborong asing Rp481,05 miliar, serta PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dengan net buy Rp348,75 miliar.

Saham ANTM terbang 16,05 persen sepekan ke Rp4.050 per unit, sedangkan MBMA 25,40 persen ke Rp790 per unit.

Selain nikel, saham tambang emas turut menjadi incaran. PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) masuk jajaran saham dengan akumulasi asing signifikan, mencerminkan pergeseran minat ke aset berbasis komoditas di tengah lonjakan harga emas seiring ketidakpastian global.

Nilai beli bersih asing di ARCI mencapai Rp373,99 miliar dalam sepekan terakhir. Harga sahamnya pun terdongkrak 16,92 persen ke Rp1.900 per unit.

ANTM, yang juga memiliki eksposur emas, mendapat tambahan sentimen positif dari lonjakan harga sahamnya dalam sepekan.

Harga kontrak berjangka (futures) nikel bertahan di kisaran USD18.300 per ton pada Kamis (15/1/2026), mendekati level tertinggi terbaru setelah sempat menyentuh puncak lebih dari 19 bulan di sekitar USD18.700 pada 14 Januari, seiring berlanjutnya kekhawatiran atas ketatnya pasokan dari Indonesia.

Mengutip Trading Economics, pelaku pasar mencermati kuota bijih 2026 yang diperkirakan 250–260 juta ton, jauh di bawah kebutuhan smelter domestik serta target tahun lalu sebesar 379 juta ton.

Hingga kini, persetujuan final Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahunan para penambang masih tertunda, menambah kehati-hatian pasar.

Keterbatasan pasokan bijih tersebut berpotensi menekan output nikel olahan, sehingga menopang harga meski tekanan pelonggaran pasokan belakangan mulai mereda.

Minat investor terhadap aset riil juga tetap kuat, terutama di tengah meningkatnya permintaan dari pabrik baja nirkarat China dan produsen baterai kendaraan listrik, yang terus menjadi penopang harga nikel.

Di sisi lain, diversifikasi pasokan mulai mendapat perhatian. Proyek Crawford milik Canada Nickel di Ontario dipercepat melalui kerangka One Project, One Process, dengan produksi perdana diperkirakan akhir 2028, menandai potensi alternatif pasokan jangka panjang di luar Indonesia.

Di luar sektor tambang, arus dana asing juga menyasar saham-saham berkapitalisasi besar.

Saham bank pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dibeli bersih asing Rp570,62 miliar, naik 2,96 persen sepekan. Sementara itu, saham raksasa otomotif PT Astra International Tbk (ASII) turut dikoleksi dengan net buy Rp465,41 miliar.

Dari sisi global, Riset KB Valbury Sekuritas menyoroti dinamika geopolitik dan kebijakan moneter yang membentuk arus modal.

Perdana Menteri Greenland menegaskan posisinya untuk tetap berpihak pada Denmark di tengah minat strategis Amerika Serikat (AS), sementara ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih membayangi pasar.

Di saat yang sama, tekanan inflasi AS yang mereda memperkuat ekspektasi tiga kali pemangkasan suku bunga The Fed masing-masing 25 bps pada 2026, meski isu independensi bank sentral kembali mencuat.

Di dalam negeri, pemerintah Indonesia berhasil menerbitkan Global Bond tiga seri senilai total USD2,7 miliar pada 12 Januari 2026, yang memberi bantalan pembiayaan fiskal awal tahun.

Namun, penerbitan tersebut belum mendorong penguatan rupiah secara berarti, sehingga pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) masih dipengaruhi ekspektasi penurunan suku bunga global, sentimen risk-off, dan volatilitas nilai tukar. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE