MARKET NEWS

Asing Outflow Rp21 Triliun, Saham Bank Besar hingga Prajogo Jadi Sasaran Utama

TIM RISET IDX CHANNEL 01/06/2026 10:40 WIB

Derasnya arus keluar dana asing (outflow) sepanjang Mei 2026 tidak hanya menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah.

Asing Outflow Rp21 Triliun, Saham Bank Besar hingga Prajogo Jadi Sasaran Utama. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Derasnya arus keluar dana asing (outflow) sepanjang Mei 2026 tidak hanya menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah, tetapi juga menghantam saham-saham bank besar dan konglomerat, mulai dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu, Grup Salim, hingga Grup Sinarmas.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan jual bersih (net sell) Rp21,09 triliun di pasar reguler selama sebulan terakhir.

Pada periode yang sama, IHSG merosot 11,92 persen menjadi 6.127,38 pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), mencatat kinerja Mei terburuk sejak 2012.

Saham yang paling banyak dilepas investor asing adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai jual bersih mencapai Rp4,56 triliun.

Meski menjadi sasaran aksi jual terbesar, saham BBCA relatif lebih tahan banting dibandingkan saham konglomerat dengan penurunan 2,56 persen selama Mei dan ditutup di level Rp5.700 per unit.

Di posisi berikutnya terdapat PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang mencatat net sell Rp3,37 triliun. Saham BMRI ditutup di Rp4.080 atau turun 7,06 persen sepanjang bulan.

Namun tekanan jual asing tidak hanya menyasar sektor perbankan. Sejumlah saham yang terafiliasi dengan taipan Prajogo Pangestu juga masuk daftar teratas saham yang ditinggalkan investor global seiring efek eksklusi indeks MSCI.

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi saham non-perbankan dengan outflow terbesar, mencapai Rp3,03 triliun. Harga sahamnya jatuh 66,32 persen sepanjang Mei dan ditutup di Rp1.785 per unit.

Dua emiten lain yang masih berada dalam kelompok usaha Barito juga mengalami tekanan serupa. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatat jual bersih asing Rp1,25 triliun dengan harga saham turun 26,01 persen menjadi Rp3.300.

Sementara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dibukukan mengalami net sell Rp1,02 triliun dan terkoreksi 47,50 persen menjadi Rp630 per unit.

Di luar Grup Barito, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang terafiliasi dengan Grup Salim juga menjadi salah satu target utama aksi jual asing. Saham perusahaan tambang tersebut mencatat outflow Rp2,97 triliun, sementara harganya merosot 35,29 persen menjadi Rp3.300.

Tekanan serupa terjadi pada PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang merupakan bagian dari Grup Sinar Mas. Saham DSSA mencatat net sell Rp1,16 triliun dan menjadi salah satu yang berkinerja terburuk selama Mei setelah ambles 69,54 persen ke level Rp492.

Sementara itu, PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) dibukukan mengalami jual bersih asing Rp1,50 triliun. Harga saham ANTM ditutup di Rp2.900 atau turun 22,46 persen dalam sebulan terakhir.

Pada sektor perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga tidak luput dari tekanan. Investor asing membukukan net sell Rp1,48 triliun pada saham BBRI, meski harga sahamnya hanya terkoreksi 1,34 persen menjadi Rp2.950.

Daftar 10 besar saham dengan outflow asing terbesar selama Mei ditutup oleh PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Emiten ritel tersebut mencatat jual bersih asing Rp656,68 miliar dengan harga saham turun 12,88 persen menjadi Rp1.150.

Menurut Phintraco Sekuritas, derasnya aksi jual menjelang akhir bulan tidak terlepas dari efektifnya rebalancing indeks MSCI pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026).

Penyesuaian portofolio investor global memicu tekanan jual terutama pada saham-saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index, yakni AMMN, BREN, TPIA, CUAN, dan DSSA.

Selain itu, AMRT turun kelas dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Small Cap Index, sedangkan ANTM termasuk dalam daftar saham yang dikeluarkan dari MSCI Small Cap Index.

Untuk saham-saham bank besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI, tekanan jual diduga berasal dari penyesuaian bobot (downweight) dalam indeks MSCI.

Di saat yang sama, sentimen pasar juga dibebani pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp17.970 per dolar AS, di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal pemerintah dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE