Beda Arah usai Laporan Keuangan, Saham ADMR Menguat, AADI-ADRO Loyo
Saham emiten energi yang terafiliasi dengan konglomerat Garibaldi Thohir bergerak bervariasi setelah merilis laporan keuangan kuartal I-2026, Senin (4/5/2026).
IDXChannel – Saham emiten energi yang terafiliasi dengan konglomerat Garibaldi Thohir bergerak bervariasi setelah merilis laporan keuangan kuartal I-2026, Senin (4/5/2026).
Hingga pukul 11.36 WIB, saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menguat 4,05 persen ke Rp1.925 per unit. Sebaliknya, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) turun 5,17 persen ke Rp11.000, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) melemah tipis 0,40 persen ke Rp2.510.
Berdasarkan riset Stockbit Sekuritas, kinerja ADMR pada awal tahun tergolong solid. Emiten ini membukukan laba bersih USD88 juta pada kuartal I-2026 (1Q26), naik 34 persen secara tahunan (YoY) dan 31 persen secara kuartalan (QoQ), relatif sejalan dengan ekspektasi pasar.
Pertumbuhan ini ditopang kenaikan harga jual rata-rata (ASP) sebesar 17 persen YoY menjadi USD183 per ton, seiring gangguan pasokan batu bara metalurgi global, serta peningkatan volume penjualan 15 persen YoY menjadi 1,46 juta ton.
Meski demikian, secara kuartalan laba usaha turun akibat penurunan volume penjualan yang dipengaruhi faktor musiman awal tahun.
Stockbit juga mencatat lonjakan laba bersih QoQ turut didorong tidak adanya pembentukan cadangan kerugian kredit seperti pada kuartal sebelumnya.
Ke depan, katalis utama ADMR berasal dari proyek aluminium melalui PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) yang ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada paruh kedua 2026.
Berbeda dengan ADMR, kinerja AADI justru di bawah ekspektasi. AADI mencatat laba bersih USD143 juta pada 1Q26, turun 17 persen QoQ dan 27 persen YoY. Penurunan ini terutama dipicu oleh kontraksi volume penjualan sebesar 22 persen QoQ serta pendapatan yang turun 20 persen QoQ.
Kenaikan ASP yang terbatas juga menjadi tekanan, mengingat harga ekspor, yang menyumbang sekitar 74 persen pendapatan, justru turun tipis secara kuartalan. Secara tahunan, penurunan laba juga dipengaruhi kombinasi melemahnya volume dan kenaikan biaya produksi yang menekan margin.
Sementara itu, ADRO mencatat kinerja yang masih sejalan ekspektasi. Laba bersih perseroan mencapai USD128 juta pada 1Q26, naik 67 persen YoY namun turun 12 persen QoQ. Pertumbuhan tahunan ditopang kenaikan ASP dan volume batu bara metalurgi, serta ekspansi margin.
Selain itu, lonjakan kontribusi dari entitas patungan, khususnya PT Bhimasena Power Indonesia (BPI), turut menjadi penopang kinerja dengan kontribusi sekitar USD23 juta dalam satu kuartal.
Menurut Stockbit, prospek ADRO pada 2026 tetap positif dengan dua katalis utama, yakni peningkatan kontribusi dari bisnis aluminium melalui ADMR serta potensi pendapatan dividen dari AADI yang baru akan dibukukan penuh tahun ini. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.