Begini Prediksi Kinerja Bumi Resources (BUMI) di Semester II-2026
BUMI melakukan serangkaian akuisisi strategis.
IDXChannel – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) saat ini menjadi sorotan banyak pihak termasuk investor. Hal ini terjadi lantaran aksi ekspansi BUMI ke segmen bisnis non-batubara dan mengembangkan platform pertambangan multi-komoditas.
BUMI selama ini dikenal sebagai perusahaan penghasil batubara terbesar di Indonesia melalui anak usahanya. Namun setahun ke belakang, upaya BUMI untuk diversifikasi pendapatan dan laba ke non-batubara semakin terlihat.
Dalam jangka menengah struktur laba BUMI tidak lagi bertumpu pada bisnis batubara. Targetnya EBITDA Perseroan bisa seimbang antara bisnis batubara dan non-batubara.
Untuk mencapai ke sana, BUMI melakukan serangkaian akuisisi strategis. Pada akhir 2025, BUMI mengamankan tambang tembaga Wolfram serta tambang emas Jubilee Metals, yang keduanya diproyeksikan mulai beroperasi pada Agustus 2026.
Menurut Analis Sinarmas Sekuritas Kenny Shan, Wolfram memiliki daya tarik dari sisi nilai ekonomi proyek.
Selain menghasilkan tembaga, tambang ini juga memproduksi emas dan perak sebagai produk sampingan, sehingga memberikan diversifikasi sumber pendapatan.
“Dengan kapasitas produksi mencapai 20.000 ton konsentrat tembaga per tahun, Wolfram diproyeksikan menjadi salah satu kontributor utama dalam jangka pendek, terutama dengan kondisi harga komoditas yang mendukung,” kata Kenny dalam risetnya Selasa (5/5/2026).
Sementara itu, Jubilee Metals menawarkan eksposur ke komoditas emas dengan target produksi sekitar 30.000 ounce per tahun.
Kualitas sumber daya yang tinggi dan jalur peningkatan produksi yang jelas menjadi faktor pendukung potensi margin yang kuat.
Kenny memperkirakan bahwa kontribusi dari kedua aset ini akan mulai tercermin signifikan pada kinerja keuangan BUMI mulai semester kedua 2026, menandai pergeseran bauran laba yang lebih terdiversifikasi.
Tidak berhenti di situ, BUMI juga masuk ke
segmen logam industri melalui kepemilikan 45 persen di Laman Mining. Dengan cadangan bauksit sekitar 30 juta ton, aset ini membuka peluang tambahan dalam rantai nilai industri aluminium.
Dari sisi pipeline, perusahaan juga tengah menjajaki akuisisi Loyal Metals (LLM) di Australia dengan nilai sekitar Rp977 miliar.
Transaksi ini berpotensi memperkaya portofolio tembaga dan emas sekaligus mempertegas arah strategi jangka panjang, jika semua persyaratan terpenuhi tentunya.
Rangkaian langkah ini menunjukkan bahwa diversifikasi BUMI tidak bersifat oportunistik, melainkan terencana dan terukur sebagai bagian dari reposisi bisnis.
Dalam pandangan analis, transformasi ini menempatkan BUMI pada jalur menuju model bisnis yang lebih resilien, dengan ketergantungan yang semakin berkurang pada siklus batu bara.
Dengan fundamental yang semakin solid dan visibilitas pertumbuhan yang meningkat, saham BUMI dinilai memiliki potensi untuk mengalami peningkatan valuasi. Kenny Shan memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp290 per saham.
(kunthi fahmar sandy)