MARKET NEWS

BEI Targetkan Penuhi Permintaan MSCI Sebelum Mei 2026

Iqbal Dwi Purnama 28/01/2026 19:48 WIB

Permintaan MSCI adalah transparansi data terkait porsi kepemilikan saham antara pemegang perorangan dan non perorangan di sebuah perusahaan tercatat.

BEI Targetkan Penuhi Permintaan MSCI Sebelum Mei 2026. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menargetkan dapat memenuhi permintaan lembaga indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait data perusahaan tercatat di Indonesia rampung sebelum Mei 2026.

Hal ini sebagai respons BEI terhadap kebijakan MSCI yang membekukan sementara rebalancing saham-saham Indonesia. 

Iman menjelaskan, salah satu permintaan MSCI adalah kelengkapan dan transparansi data terkait porsi kepemilikan saham antara pemegang perorangan dan non perorangan di sebuah perusahaan tercatat. Jika permintaan tersebut tidak dipenuhi, saham di Indonesia terancam turun kasta dari emerging market menjadi frontier market.

"Kita sedang formulasikan, apa yang bisa kita berikan. Nah ini yang nanti diskusi itu akan berjalan sampai dengan kita harapkan sebelum bulan Mei," ujarnya dalam konferensi pers di gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu (28/1/2026).

Pada kesempatan yang sama, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menambahkan, pihaknya akan memperbaharui aturan terkait transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Hal ini menyusul permintaan data yang mendetail dari indeks global MSCI.

Saat ini Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan BEI menyajikan 9 jenis data investor dari kepemilikan individu, reksa dana, korporasi dan lainnya. Selanjutnya dari kepemilikan tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu asing dan domestik, serta pengelompokan pemilik di bawah 5 persen dan di atas 5 persen.

Dia menargetkan, penyesuaian klasifikasi jenis investor ini dapat rampung sebelum Mei mendatang. Sehingga pada Juni tidak ada sentimen pasar yang berpengaruh dalam terhadap pergerakan indeks pasca rilis MSCI.

"Jadi poin yang paling penting adalah, data yang disajikan oleh kita di Indonesia, baik dari perusahaan tercatat maupun KSEI, Insyaallah data yang benar dan akurat. Cuma sekarang mungkin karena kebutuhan data (MSCI) ini belum match (sesuai keinginan)," kata dia.

(NIA DEVIYANA)

SHARE