BEI Ungkap Strategi Redam Gejolak Pasar Pascapengumuman MSCI
BEI sempat menghentikan sementara perdagangan saham (trading halt) setelah indeks terkoreksi 8 persen ke level 8.261,7.
IDXChannel - Bursa Efek Indonesia (BEI) memaparkan sejumlah strategi untuk meredam gejolak pasar pasca pengumuman pembekuan sementara rebalancing saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Adapun pada hari ini, Rabu (28/1/2026), BEI sempat menghentikan sementara perdagangan saham (trading halt) setelah indeks terkoreksi 8 persen ke level 8.261,7.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengatakan untuk mengatasi gejolak pasar, pihaknya bakal mencoba mengikuti masukan dari MSCI yang menyoroti transparansi data kepemilikan saham di Indonesia.
Kondisi yang terjadi pada hari ini, kata dia, lantaran data yang sebelumnya disampaikan belum sesuai dengan yang dibutuhkan lembaga indeks global tersebut.
"Nah ini tadi hasil kami diskusi juga kita sedang mempersiapkan, kita sedang melihat bagaimana kita bisa memenuhi apa yang di-require (diperlukan), apa yang dibutuhkan oleh MSCI. Sehingga tadi kita tidak harapkan bahwa investor-investor kita yang ada sekarang panik," ujar Iman saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Iman mengatakan, pihaknya berkomitmen meningkatkan data free float sebagaimana yang diminta oleh MSCI. Namun demikian, permintaan data tersebut akan diberikan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia.
Misalnya, kata dia, permintaan data terkait kepemilikan saham pada perorangan pada suatu perusahaan meski bukan pengendali, tentu sulit dipenuhi karena berbenturan dengan aturan kerahasiaan data pribadi. Hal tersebut yang masih perlu dikomunikasikan kepada MSCI.
"Tujuan kami di Bursa mensupport sesuai dengan kemampuan kita," kata Iman.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menambahkan, pihaknya akan memperbaharui aturan terkait transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia.
Hal ini menyusul permintaan data yang mendetail dari indeks global MSCI. Sehingga akan ada beberapa penyesuaian terkait kelompok pemegang saham.
Adapun saat ini Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan BEI menyajikan 9 jenis data investor. Seperti pemegang saham dari korporasi (perusahaan terbatas) (CP), foundation (FD), institusi keuangan (IB), individual (ID), asuransi (IS), reksa dana (MF), lainnya (OT), dana pensiun (PF), dan perusahaan sekuritas (SC).
Selanjutnya dari kepemilikan tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu asing dan domestik, serta pengelompokan pemilik di bawah 5 persen dan di atas 5 persen.
"Ini teman-temen KSEI sedang merumuskan, nanti akan kita tambah lagi beberapa jenis investor di bawahnya. Tapi 9 itu tetap fix, tapi akan ada tambahan. Terutama untuk institutional client, ini kan macam-macam, ada asset management, ada private equity, venture capital SWF, itu yang nanti akan kita detailkan," kata dia.
Irvan menargetkan, penyesuaian klasifikasi jenis investor ini dapat rampung sebelum Mei mendatang. Sehingga pada Juni tidak ada sentimen pasar yang berpengaruh dalam terhadap pergerakan indeks pasca rilis MSCI.
"Jadi poin yang paling penting adalah, data yang disajikan oleh kita di Indonesia, baik dari perusahaan tercatat maupun KSEI, Insyaallah data yang benar dan akurat. Cuma sekarang mungkin karena kebutuhan data (MSCI) ini belum match (sesuai keinginan)," tuturnya.
(NIA DEVIYANA)