MARKET NEWS

Bessent Perang Lawan Yield AS, The Fed Jadi Penentu Nasib Rupiah dan IHSG

TIM RISET IDX CHANNEL 12/09/2026 11:00 WIB

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent tengah berperang melawan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi.

Bessent Perang Lawan Yield AS, The Fed Jadi Penentu Nasib Rupiah dan IHSG. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent tengah berperang melawan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi.

Namun, ketika Treasury berusaha menekan yield jangka panjang, harga minyak yang kembali menembus USD100 per barel justru mengancam memperpanjang tekanan inflasi dan membuat langkah Federal Reserve (The Fed) menjadi jauh lebih sulit.

Analis Sucor Sekuritas Ahmad Mikail Zaini menilai arah kebijakan The Fed pada September akan menjadi kunci bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

Dalam riset yang terbit 11 September 2026, ia memperkirakan inflasi konsumen AS dapat berada di kisaran 3,5-3,6 persen secara tahunan (YoY) dalam beberapa rilis data mendatang, di atas konsensus pasar sebesar 3,4 persen.

Kenaikan tersebut terutama berpotensi datang dari kembali masuknya kejutan harga energi ke dalam rantai inflasi.

Harga minyak Brent yang kembali menembus USD100 per barel setelah eskalasi konflik di Timur Tengah berisiko mendorong kenaikan harga produsen sebelum akhirnya diteruskan ke konsumen.

Tekanan itu mulai terlihat pada data terbaru. PPI AS pada Agustus melonjak 5,4 persen YoY dari 4,7 persen pada Juli. Salah satu pendorong utamanya adalah harga diesel yang melesat 24,1 persen YoY.

Meski demikian, Ahmad menilai kenaikan tersebut lebih mencerminkan tekanan dari sisi pasokan ketimbang ekonomi AS yang terlalu panas.

“Ini merupakan kejutan energi yang bersifat cost-push, bukan cerita overheating akibat permintaan,” tulis Ahmad.

Perbedaan tersebut menjadi krusial bagi The Fed. Jika tekanan inflasi dinilai berasal dari gangguan pasokan dan bersifat sementara, bank sentral memiliki alasan untuk tidak buru-buru menaikkan suku bunga.

Sucor Sekuritas memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada September mencapai sekitar 91 persen berdasarkan model ordered-probit.

Angka tersebut jauh berbeda dengan pasar prediksi yang masih mencerminkan peluang kenaikan suku bunga sekitar 55 persen.

Skenario dasar Ahmad adalah The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh melihat lonjakan harga akibat perang sebagai tekanan sementara, bukan perubahan rezim inflasi yang permanen.

Dengan demikian, The Fed diperkirakan memilih menahan suku bunga daripada merespons kejutan harga energi dengan kenaikan bunga.

Keputusan tersebut sekaligus dapat menjadi angin segar bagi agenda Bessent.

Treasury tengah mendorong strategi untuk menekan imbal hasil obligasi tenor panjang, termasuk melalui percepatan pembelian kembali obligasi pemerintah atau accelerated bond buybacks.

Jika The Fed menahan suku bunga, langkah tersebut berpeluang menekan term premium dan menjaga yield jangka panjang tetap terkendali.

Sebaliknya, kenaikan suku bunga akan menjadi pukulan bagi strategi tersebut. Yield berpotensi kembali terdorong naik, sementara dolar AS menguat dan memperketat kondisi keuangan global.

Masalahnya, harga minyak kembali menjadi kartu liar.

Perang Iran yang telah berlangsung lebih dari enam bulan sebelumnya mendorong harga Brent mendekati USD126 per barel pada Maret. Harga kemudian mereda ke kisaran USD90-an pada akhir Juli setelah ketegangan sempat turun.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Pada 8 September, kelompok Houthi menyerang fasilitas minyak Arab Saudi, memicu kebakaran dan gangguan produksi. Eskalasi tersebut kembali menghidupkan kekhawatiran mengenai pasokan energi global dan mendorong Brent kembali menembus USD100 per barel.

Bagi The Fed, situasi ini menciptakan dilema. Menahan suku bunga dapat membantu meredam yield jangka panjang dan menjaga kondisi finansial tetap longgar, tetapi harga minyak yang tinggi berpotensi membuat inflasi kembali membandel.

Sebaliknya, menaikkan suku bunga untuk mengantisipasi tekanan inflasi dapat memperkuat dolar dan mendorong yield AS lebih tinggi, tepat ketika Treasury berusaha melakukan hal sebaliknya.

Jika skenario pertama yang diperkirakan Sucor terwujud, pasar negara berkembang berpotensi mendapatkan ruang bernapas.

Dolar yang lebih lemah dan suku bunga riil AS yang lebih rendah dapat mendorong aliran dana kembali ke aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang (EM).

Indonesia menjadi salah satu kandidat penerima manfaat. Rupiah, obligasi pemerintah Indonesia (INDOGB), hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mendapat dukungan dari kombinasi dolar yang lebih lemah dan real yield AS yang lebih rendah.

Namun, seluruh skenario tersebut bertumpu pada satu keputusan, yakni apakah The Fed melihat minyak USD100 sebagai badai sementara, atau ancaman inflasi yang harus dilawan dengan kenaikan suku bunga. (Aldo Fernando)

SHARE