Bos EXCL Beri Penjelasan soal Lonjakan Beban Gaji Karyawan Capai 70 Persen
EXCL membayar gaji dan kesejahteraan karyawan sebesar Rp877,43 miliar, naik 70,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp514,95 miliar
IDXChannel - Beban gaji dan kesejahteraan karyawan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) tercatat melonjak 70,39 persen dalam laporan keuangan kuartal I-2026. Pada periode tersebut, EXCL membayar gaji dan kesejahteraan karyawan sebesar Rp877,43 miliar, naik 70,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp514,95 miliar.
Direktur & Chief Financial Officer XLSMART Antony Susilo menjelaskan, kenaikan tersebut terutama dipengaruhi proses integrasi pascamerger yang membuat jumlah pegawai bertambah dan adanya penyesuaian organisasi di internal perusahaan.
"Kalau kita lihat sebelum merger, angka expenses itu kan hanya angka XL saja. Tapi begitu merger, pegawainya bertambah. Selain itu, setelah merger kita melakukan integrasi organisasi, organisasi kita sekarang lebih terpadu, termasuk employee restructuring," ujar Antony dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Menurut dia, perusahaan juga melakukan harmonisasi struktur penggajian dan kesejahteraan karyawan agar lebih seragam setelah penggabungan entitas usaha dilakukan. Proses tersebut memerlukan berbagai program integrasi dan engagement kepada para pekerja.
Antony menilai kenaikan biaya gaji tersebut bukan semata-mata beban operasional, melainkan investasi perusahaan terhadap sumber daya manusia untuk mendukung transformasi dan integrasi bisnis pascamerger.
"Kita believe bahwa kenaikan salary ini merupakan investasi, bukan sekadar pengelolaan biaya. Ini investasi kepada para karyawan supaya dedikasi mereka dalam melakukan transformasi dan integrasi berjalan dengan baik," kata dia.
Dia menyebut proses integrasi jaringan antara XL Axiata dan Smartfren telah mencapai hampir 70 persen hingga akhir tahun lalu. Selain itu, struktur organisasi dan jumlah tenaga kerja kini dinilai lebih tertata dibandingkan sebelum merger dilakukan.
"Per 30 Desember tahun lalu, network kita sudah terintegrasi hampir 70 persen. Jumlah karyawan juga lebih rapi dan lebih terstruktur," ujar Antony.
Meski demikian, manajemen menegaskan lonjakan biaya karyawan tersebut bersifat sementara atau one time. Seiring proses integrasi yang hampir selesai pada tahun ini, perusahaan memperkirakan biaya integrasi organisasi ke depan tidak akan sebesar tahun sebelumnya.
"Ini sifatnya one time, bukan berarti akan terus terjadi. Di 2026 proses integrasi organisasi sudah hampir selesai. Mungkin masih ada biaya integrasi, tetapi nilainya tidak terlalu besar," katanya.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam proses merger bukan hanya penyatuan bisnis dan jaringan, tetapi juga penyelarasan budaya kerja dari dua perusahaan yang berbeda. Karena itu, perusahaan melakukan banyak program engagement untuk menjaga kenyamanan dan produktivitas karyawan selama masa transisi.
"Tahun lalu culture integration itu tidak gampang. Karena dua perusahaan berbeda, kita harus melakukan banyak engagement dengan para karyawan. Itu juga yang menyebabkan personal expenses meningkat," kata Antony.
(Dhera Arizona)