MARKET NEWS

Bursa Asia Anjlok, Perang Timur Tengah Picu Kekhawatiran Stagflasi

TIM RISET IDX CHANNEL 30/03/2026 09:49 WIB

Bursa saham Asia turun tajam pada perdagangan Senin (30/3/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap meluasnya konflik Timur Tengah.

Bursa Asia Anjlok, Perang Timur Tengah Picu Kekhawatiran Stagflasi. (Foto: Reuters)

IDXChannel – Bursa saham Asia turun tajam pada perdagangan Senin (30/3/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap meluasnya konflik Timur Tengah yang memicu risiko stagflasi global.

Indeks saham Jepang memimpin pelemahan. Nikkei anjlok sekitar 4,6 persen dan sempat turun lebih dari 5 persen, menghapus seluruh kenaikan sepanjang tahun ini, sementara Topix merosot 4,5 persen.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun juga sempat menyentuh 2,39 persen, level tertinggi sejak 1999, mencerminkan meningkatnya tekanan inflasi.

Kepala Strategi Ekuitas NLI Research Institute Shingo Ide mengatakan pasar kini tidak hanya khawatir terhadap inflasi dan perlambatan ekonomi akibat konflik Timur Tengah, tetapi juga mulai mempertimbangkan risiko resesi.

"Pasar kemungkinan kini mewaspadai bukan hanya inflasi dan perlambatan ekonomi, tetapi bahkan resesi atau pertumbuhan negatif," ujar dia, seperti dikutip Reuters.

Tekanan juga terjadi di Korea Selatan, di mana indeks KOSPI turun lebih dari 4 persen mendekati level terendah dalam hampir empat pekan.

Kekhawatiran investor meningkat setelah serangan rudal kelompok Houthi Yaman ke Israel memperluas konflik kawasan dan memicu aksi risk-off global.

Lonjakan harga minyak turut menekan pasar karena meningkatkan risiko inflasi dan perlambatan ekonomi di negara-negara Asia yang bergantung pada energi impor. Won Korea Selatan tetap tertekan di sekitar level KRW1.500 per USD seiring arus keluar dana asing.

Bursa Asia lainnya juga bergerak negatif. Shanghai Composite turun 0,61 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 2,07 persen, ASX Australia terkoreksi 1,32 persen, dan STI Singapura turun 0,29 persen.

Di pasar global, kontrak berjangka (futures) S&P 500 turun 0,7 persen dan Nasdaq futures melemah 0,9 persen, sementara futures saham Eropa juga tertekan.

Lonjakan harga minyak menjadi pemicu utama tekanan pasar setelah Brent naik sekitar 3 persen ke USD115,98 per barel dan minyak AS mencapai USD102,52 per barel.

Kepala Ekonom Global JPMorgan Bruce Kasman memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan dapat mendorong lonjakan harga energi lebih tinggi.

"Jika Selat tetap tertutup selama satu bulan tambahan, harga minyak berpotensi naik menuju USD150 per barel dan membatasi pasokan energi bagi sektor industri," ujar dia.

Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar bahwa konflik Timur Tengah tidak hanya memicu lonjakan harga minyak, tetapi juga meningkatkan risiko stagflasi global dan tekanan pada pasar saham Asia. (Aldo Fernando)

SHARE