Bursa Asia Beragam di Tengah Pelemahan Wall Street
Bursa saham Asia bergerak variatif pada Rabu (14/1/2026) di tengah koreksi di Wall Street semalam.
IDXChannel – Bursa saham Asia bergerak variatif pada Rabu (14/1/2026) di tengah koreksi di Wall Street semalam.
Menurut data pasar, pukul 09.22 WIB, indeks saham Nikkei Jepang mencetak rekor tertinggi pada Rabu, didorong harapan tambahan stimulus fiskal setelah laporan pekan lalu menyebut pemerintah mempertimbangkan pemilu dadakan bulan depan.
Pelemahan tajam yen sejak akhir pekan lalu turut menjadi penopang pasar. Nilai tukar yang lebih lemah meningkatkan nilai pendapatan luar negeri para eksportir besar Jepang.
Indeks Nikkei 225 naik 1,63 persen ke level 54.447, sekaligus menembus level 54.000 untuk pertama kalinya.
Sehari sebelumnya, indeks ini melonjak 3 persen ke rekor tertinggi setelah muncul laporan bahwa Perdana Menteri Sanae Takaichi mungkin membubarkan parlemen bulan ini dan menggelar pemilu pada Februari.
Indeks Topix yang lebih luas juga menyentuh rekor sepanjang masa pada Rabu, menguat 0,6 persen ke 3.620,22.
“Ekspektasi pemilu dini terus mengangkat saham-saham domestik, sementara pelemahan yen juga meningkatkan minat terhadap ekuitas,” kata analis Tokai Tokyo Intelligence Laboratory, Shuutarou Yasuda, dikutip dari Trading Economics.
Namun, ia menambahkan, sebagian investor mulai melakukan aksi ambil untung setelah lonjakan tajam pada sesi sebelumnya.
Shanghai Composite meningkat 0,77 persen, Hang Seng Hong Kong tumbuh 0,25 persen, dan CSI 300 China naik 0,77 persen.
Berbeda, KOSPI Korea Selatan turun 0,28 persen, ASX 200 Australia berkurang 0,16 persen, STI Singapura melemah 0,31 persen.
Di Wall Street, saham sektor keuangan menekan indeks utama setelah muncul peringatan soal potensi perubahan kebijakan kredit.
Di saat yang sama, harga emas mencetak rekor baru seiring data inflasi AS yang memperkuat peluang pemangkasan suku bunga tahun ini.
Harga minyak turut naik, dengan ketegangan di Iran mengimbangi kekhawatiran kelebihan pasokan.
Melansir dari Reuters, usulan Presiden AS Donald Trump untuk membatasi suku bunga kartu kredit dan mengenakan tarif 25 persen terhadap negara mana pun yang berbisnis dengan Iran, serta serangannya terhadap independensi Federal Reserve (The Fed), menambah ketidakpastian pasar dan membuat investor tetap berhati-hati.
Di sisi data, kenaikan harga pangan dan sewa mendorong Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,3 persen bulan lalu, dengan inflasi tahunan mencapai 2,7 persen. CPI inti naik 0,2 persen pada Desember. Angka-angka ini sesuai ekspektasi dan memperkuat keyakinan bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga.
“Data ini menegaskan bahwa inflasi sedang melandai, dan The Fed mungkin dapat memangkas suku bunga tahun ini,” ujar Kepala Investasi Cetera Investment Management, Gene Goldman.
Pada penutupan perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun 0,80 persen ke 49.191,99, S&P 500 melemah 0,19 persen ke 6.963,74, dan Nasdaq Composite turun tipis 0,1 persen ke 23.709,87. (Aldo Fernando)