MARKET NEWS

Bursa Asia Beragam saat Harga Minyak Melonjak

TIM RISET IDX CHANNEL 31/03/2026 09:23 WIB

Bursa saham Asia bergerak beragam pada perdagangan Selasa (31/3/2026) di tengah lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah.

Bursa Asia Beragam saat Harga Minyak Melonjak. (Foto: Reuters)

IDXChannel – Bursa saham Asia bergerak beragam pada perdagangan Selasa (31/3/2026) di tengah lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi kawasan.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,55 persen dan bersiap mencatat penurunan bulanan lebih dari 12 persen, terbesar sejak September 2022.

Indeks Nikkei Jepang melemah 0,10 persen dengan potensi penurunan bulanan lebih dari 10 persen, sementara Kospi Korea Selatan (Korea Selatan) tertekan 1,70 persen pagi ini, membukukan penurunan lebih dari 17 persen sepanjang bulan, penurunan terdalam sejak krisis 2008.

Mengutip Trading Economics, tekanan paling terasa di Korsel setelah harga minyak mentah menembus USD100 per barel dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menyerang fasilitas minyak Iran jika kesepakatan tidak tercapai.

Gangguan pengiriman di Selat Hormuz juga membuat won Korea jatuh ke level terendah 17 tahun dan memicu aksi jual investor asing, menyeret Kospi turun sekitar 15 persen sepanjang Maret.

Di sisi lain, bursa Australia menguat dengan indeks S&P/ASX 200 naik 0,85 persen karena harga emas, minyak, dan aluminium yang tinggi menopang saham komoditas.

Bursa China dan Hong Kong juga bergerak positif dengan Shanghai Composite naik 0,57 persen, Hang Seng menguat 0,56 persen, dan STI Singapura naik 0,42 persen.

Harga minyak yang melesat menjadi pendorong utama gejolak pasar, seirinh Brent mendekati USD115 per barel dan mencatat kenaikan bulanan sekitar 59 persen, terbesar sepanjang sejarah, sementara WTI menuju kenaikan sekitar 56 persen. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi global dan menekan selera risiko investor.

Kepala Riset Makro Asia ex-Japan di Mizuho, Vishnu Varathan, mengatakan pasar kini mulai bergerak dalam mode ketakutan seiring meningkatnya ketegangan konflik.

“Pasar tampaknya beralih dari sekadar merespons headline menjadi lebih berhati-hati dan mengurangi risiko karena kekhawatiran konflik akan berlangsung lebih lama,” ujarnya, seperti dikutip Reuters.

Kepala Pasar Asia-Pasifik Capital Economics, Thomas Mathews, menilai inflasi menjadi risiko utama dalam jangka pendek.

“Jika harga minyak tidak segera turun dalam beberapa bulan ke depan, pasar kemungkinan akan mulai mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi global,” katanya. (Aldo Fernando)

SHARE