Bursa Asia Berguguran, Saham Teknologi dan Chip Tertekan Lonjakan Yield Obligasi
Bursa saham Asia melemah tajam pada perdagangan Rabu (19/8/2026), mengikuti aksi jual saham teknologi di Wall Street pada perdagangan semalam.
IDXChannel - Bursa saham Asia melemah tajam pada perdagangan Rabu (19/8/2026), mengikuti aksi jual saham teknologi di Wall Street pada perdagangan semalam.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan memudarnya ekspektasi tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah menekan sentimen risiko investor.
Indeks Nikkei 225 Jepang menjadi salah satu yang mengalami tekanan terbesar. Pada awal perdagangan, Nikkei 225 jatuh 2,97 persen ke level 65.459,71, sedangkan indeks Topix turun 2,72 persen menjadi 4.027,56.
Tekanan terutama datang dari saham teknologi dan semikonduktor setelah indeks Philadelphia Semiconductor Exchange (SOX) di Amerika Serikat (AS) merosot 5 persen pada perdagangan sebelumnya.
Analis Sony Financial Group mengatakan, dikutip Reuters, kenaikan suku bunga jangka panjang meningkatkan persepsi bahwa saham-saham bertumbuh telah berada pada valuasi yang terlalu tinggi.
Penurunan saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor, kemudian menjadi pendorong utama pelemahan indeks.
Di Jepang, Kioxia Holdings menjadi saham dengan penurunan terbesar di Nikkei 225, yakni 10,25 persen. Furukawa Electric menyusul dengan penurunan 10,10 persen, sementara Pan Pacific International merosot 9,75 persen.
SoftBank Group, yang merupakan investor besar di sektor kecerdasan buatan (AI), juga terkoreksi 6,47 persen.
Tekanan juga terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi merosot tajam 4,72 persen, dengan saham raksasa semikonduktor Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing merosot lebih dari 7 persen.
Aksi jual saham chip Asia tersebut mengikuti pelemahan saham semikonduktor dan perusahaan terkait kecerdasan buatan (AI) di AS.
Kekhawatiran terhadap inflasi dan tingginya utang pemerintah membuat imbal hasil obligasi tetap tinggi, sehingga meningkatkan tekanan terhadap saham-saham teknologi yang memiliki valuasi tinggi.
Sementara itu, indeks Shanghai Composite China turun 1,16 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,43 persen, ASX 200 Australia turun 0,30 persen, sedangkan Straits Times Index (STI) Singapura terkoreksi 0,89 persen.
Sentimen pasar juga terbebani kenaikan harga minyak setelah harapan terhadap penyelesaian konflik di Timur Tengah memudar.
Kondisi tersebut mendorong investor mengurangi aset berisiko sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek inflasi global. (Aldo Fernando)