Bursa Asia Cenderung Menguat, Investor Pantau Nvidia dan Perkembangan Iran
Bursa saham Asia bergerak cenderung menguat pada Rabu (26/8/2026), meski investor masih mencermati ketidakpastian terkait perang Iran.
IDXChannel - Bursa saham Asia bergerak cenderung menguat pada Rabu (26/8/2026), meski investor masih mencermati ketidakpastian terkait perang Iran dan dampaknya terhadap perekonomian global.
Perhatian pasar juga tertuju pada laporan keuangan Nvidia yang dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu Amerika Serikat (AS).
Di Korea Selatan, saham-saham teknologi menguat setelah sempat dibuka melemah. Indeks Korea Composite Stock Price (KOSPI) naik 0,13 persen menjadi 6.753 pada pukul 09.01 WIB, didorong kenaikan saham perusahaan semikonduktor menjelang laporan keuangan Nvidia.
Investor menilai kinerja Nvidia akan menjadi katalis penting bagi sektor semikonduktor dan industri kecerdasan buatan (AI) secara lebih luas.
Hasil kinerja dan proyeksi perusahaan juga berpotensi memengaruhi valuasi saham-saham teknologi.
Mengutip Trading Economics, sentimen pasar turut mendapat dukungan dari penurunan imbal hasil US Treasury dan harga minyak dunia.
Imbal hasil obligasi AS yang lebih rendah membantu mengurangi tekanan terhadap valuasi saham teknologi.
Penurunan harga minyak serta meredanya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan melalui Selat Hormuz juga memberikan ruang bagi pasar Korea Selatan.
Kondisi tersebut berpotensi mengurangi tekanan terhadap biaya impor negara tersebut.
Sementara itu, bursa Jepang bergerak melemah. Indeks Nikkei Stock Average turun 0,4 persen menjadi 65.595,13.
Saham-saham terkait semikonduktor memimpin penurunan menjelang laporan keuangan Nvidia, dengan Kioxia Holdings melemah 1,0 persen dan Tokyo Electron turun 1,9 persen.
Nilai tukar dolar AS berada di 159,24 yen, dibandingkan 159,33 yen pada penutupan perdagangan Tokyo pada Selasa (25/8).
Investor masih mencermati perkembangan di Timur Tengah setelah AS meluncurkan kampanye yang disebutnya belum pernah terjadi sebelumnya untuk menekan perekonomian Iran.
Perkembangan konflik menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi harga energi dan prospek ekonomi global.
Di bursa Asia lainnya, indeks Shanghai Composite naik 0,27 persen, Hang Seng Hong Kong menguat 1,04 persen, dan ASX 200 Australia terkerek 0,20 persen.
Sebaliknya, indeks Straits Times (STI) Singapura turun tipis 0,09 persen.
Pergerakan bursa Asia turut dipengaruhi kinerja Wall Street pada perdagangan sebelumnya yang ditutup menguat, didukung pemulihan saham-saham chip.
Penurunan harga minyak dan imbal hasil US Treasury memberikan tambahan sentimen positif bagi pasar. (Aldo Fernando)