Bursa Asia Mayoritas Libur Hari Buruh, Pasar Jepang dan Australia Menguat
Pergerakan bursa Asia pada Jumat (1/5/2026) cenderung terbatas seiring mayoritas pasar tutup dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional.
IDXChannel – Pergerakan bursa Asia pada Jumat (1/5/2026) cenderung terbatas seiring mayoritas pasar tutup dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional.
Meski demikian, sentimen global yang lebih positif tetap memberi dorongan bagi pasar yang masih beroperasi.
Optimisme investor menguat setelah laporan kinerja emiten teknologi global melampaui ekspektasi.
Mengutip Reuters, Apple menjadi salah satu pendorong utama setelah membukukan hasil di atas perkiraan dan memberikan prospek penjualan yang solid, meski mengingatkan adanya kendala pasokan chip. Sahamnya naik 2,7 persen dalam perdagangan lanjutan.
Kinerja positif juga datang dari Alphabet dan Caterpillar yang sama-sama melampaui ekspektasi pasar, memperkuat minat investor terhadap saham teknologi dan industri global.
Di kawasan Asia, pergerakan indeks relatif terbatas akibat libur panjang.
Hingga pukul 09.21 WIB, indeks Nikkei 225 tercatat naik 0,68 persen, sementara indeks saham Australia menguat 1m04 persen. Indeks regional Asia-Pasifik di luar Jepang juga naik sekitar 0,3 persen.
Secara bulanan, April menjadi periode yang sangat kuat bagi pasar saham global.
Indeks S&P 500 melonjak lebih dari 10 persen, sementara Nasdaq Composite melesat 15 persen, kinerja terbaik sejak 2020.
Di Asia, Nikkei 225 naik 16 persen sepanjang April, diikuti Taiwan yang melonjak 23 persen dan Korea Selatan hampir 31 persen.
Meski sentimen saham membaik, pasar tetap dibayangi risiko geopolitik dan lonjakan harga energi.
Harga minyak memang mulai turun dari puncaknya, namun masih berada di level tinggi setelah sempat menyentuh lebih dari USD126 per barel, tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait ancaman Iran terhadap jalur strategis Selat Hormuz, menjaga kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global, faktor yang sangat krusial bagi Asia sebagai kawasan importir energi utama.
Dari pasar mata uang, yen Jepang sempat menguat setelah otoritas Jepang melakukan intervensi untuk menopang mata uangnya.
Namun, dolar AS kembali menguat, menandakan tekanan terhadap yen masih belum sepenuhnya mereda dan membuka peluang intervensi lanjutan jika mendekati level 160 per USD. (Aldo Fernando)