Bursa Asia Melemah Dibayangi Konflik Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak
Bursa saham Asia cenderung melemah pada perdagangan Senin (13/7/2026) seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran.
IDXChannel - Bursa saham Asia cenderung melemah pada perdagangan Senin (13/7/2026) seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan.
Sentimen pasar juga tertekan oleh lonjakan harga minyak menyusul klaim Iran yang menutup Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia.
Kenaikan harga energi kembali memicu kekhawatiran inflasi global sekaligus memperbesar ekspektasi bahwa bank sentral, terutama Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS dan indeks dolar turut menguat di tengah meningkatnya permintaan aset aman.
Harga minyak Brent melonjak 3,3 persen ke USD78,50 per barel pada awal perdagangan, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,4 persen menjadi USD73,83 per barel.
Sebelumnya, pejabat AS menyebut sekitar 20 kapal berhasil dikawal melewati Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir, meski data pelacakan kapal menunjukkan lalu lintas di kawasan tersebut masih minim.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun sekitar 1,67 persen ke kisaran 67.308.
Investor mencermati dampak kenaikan harga minyak terhadap tekanan inflasi dan prospek kenaikan suku bunga, di tengah penantian laporan keuangan emiten-emiten besar Amerika Serikat (AS) yang akan dimulai pekan ini.
Tekanan lebih besar terjadi di Korea Selatan. Indeks KOSPI jatuh 6 persen ke sekitar 7.027, berbalik arah setelah sempat menguat pada sesi sebelumnya.
Pelemahan dipimpin saham-saham teknologi, di antaranya SK Hynix yang merosot 8,39 persen akibat aksi ambil untung setelah debutnya di Nasdaq pada Jumat lalu.
Samsung Electronics turun 3,7 persen, SK Square terkoreksi 10,2 persen, Samsung Electro-Mechanics melemah 11,4 persen, dan HD Hyundai Heavy Industries turun 1,9 persen.
Sentimen terhadap sektor semikonduktor Korea Selatan juga masih rapuh setelah KOSPI kehilangan hampir 8 persen sepanjang pekan lalu.
Meski demikian, mengutip Trading Economics, Bank of Korea menilai siklus ekspansi industri cip yang didorong kecerdasan buatan (AI) masih berlanjut karena pasokan chip memori canggih tetap terbatas, sementara permintaan global masih kuat.
Bursa Asia lainnya juga bergerak di zona merah.
Indeks Shanghai Composite China turun 1,12 persen, ASX 200 Australia melemah 0,33 persen, dan Straits Times Index (STI) Singapura terkoreksi tipis 0,09 persen.
Di tengah tekanan tersebut, indeks Hang Seng Hong Kong menjadi pengecualian dengan menguat 0,96 persen.
Sementara itu, kontrak berjangka saham AS juga bergerak negatif. Futures S&P 500 turun 0,3 persen, sedangkan Nasdaq futures melemah 0,5 persen.
Pelaku pasar kini menantikan musim laporan keuangan kuartalan sebagai penentu apakah reli saham, terutama yang ditopang tema AI, masih dapat berlanjut di tengah meningkatnya risiko geopolitik dan tekanan inflasi. (Aldo Fernando)