Bursa Asia Melemah, Gencatan Senjata Israel-Lebanon Kembali Diragukan
Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Jumat (5/6/2026) seiring meningkatnya kembali kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah.
IDXChannel - Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Jumat (5/6/2026) seiring meningkatnya kembali kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah.
Pelaku pasar mengurangi eksposur pada aset berisiko setelah gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang diumumkan pekan ini langsung menunjukkan tanda-tanda keretakan.
Kesepakatan gencatan senjata tersebut mendapat tekanan hanya beberapa jam setelah diumumkan.
Mengutip Dow Jones Newswires, pasukan Israel dan kelompok Hizbullah dilaporkan kembali saling melancarkan serangan pada Kamis, sementara kedua pihak mempertanyakan sejauh mana komitmen masing-masing terhadap kesepakatan tersebut.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyebut perjanjian itu mensyaratkan Hizbullah menghentikan serangan terhadap pasukan Israel dan menarik para pejuangnya dari Lebanon selatan.
Namun, Israel menegaskan operasi militernya di wilayah tersebut akan tetap berlanjut, sementara Hizbullah menolak sejumlah poin penting dalam proposal gencatan senjata.
Situasi ini menambah ketidakpastian terhadap proses perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Teheran memandang konflik di Lebanon sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang telah berlaku sebelumnya, sehingga berpotensi mengganggu negosiasi yang lebih luas.
“Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon tampaknya berada dalam kondisi yang rapuh,” tulis analis ANZ Research dalam laporannya.
Menurut mereka, Hizbullah menyatakan tidak akan mematuhi sejumlah syarat dalam kesepakatan yang diumumkan oleh Departemen Luar Negeri AS.
Sentimen negatif juga datang dari Wall Street setelah saham-saham teknologi mengalami tekanan pada perdagangan sebelumnya. Kondisi tersebut turut membebani pergerakan pasar saham Asia.
Indeks Nikkei Jepang turun 1,23 persen, sementara Kospi Korea Selatan merosot 3,62 persen. Di Hong Kong, Hang Seng melemah 0,52 persen dan indeks ASX 200 Australia turun 0,46 persen.
Di sisi lain, pasar China menunjukkan ketahanan yang lebih baik dengan Shanghai Composite menguat 0,29 persen. Indeks STI Singapura bergerak relatif datar.
Kontrak berjangka saham AS juga menunjukkan pelemahan. E-mini Nasdaq 100 turun 1 persen, diikuti E-mini S&P 500 yang terkoreksi 0,5 persen dan E-mini Dow Jones yang melemah 0,1 persen.
Sementara itu, harga minyak bergerak bervariasi di tengah ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,3 persen menjadi USD92,74 per barel, sedangkan Brent relatif stabil di level USD95 per barel.
Tim riset Global Economics & Markets Research UOB mengatakan harga minyak masih berfluktuasi karena pasar terus menilai risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Menurut mereka, pergerakan pasar secara keseluruhan mencerminkan berkurangnya optimisme awal setelah investor kembali mengevaluasi ketahanan setiap upaya deeskalasi konflik di kawasan tersebut. (Aldo Fernando)