Bursa Asia Melemah Lagi di Tengah Jatuhnya Wall Street
Bursa saham Asia kembali tertekan pada Rabu (21/6/2026), mengikuti aksi jual di Wall Street semalam.
IDXChannel - Bursa saham Asia kembali tertekan pada Rabu (21/6/2026), mengikuti aksi jual di Wall Street semalam setelah retorika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang kian agresif terkait Greenland menekan sentimen risiko global.
Menurut data pasar, pukul 09.33 WIB, Indeks Nikkei 225 melemah 0,65 persen, turun lima hari berturut-turut, sementara indeks Topix yang lebih luas merosot 0,89 persen.
Di dalam Negeri Sakura, melansir dari Reuters, Menteri Keuangan Satsuki Katayama mengimbau pasar agar tetap tenang setelah imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) melonjak di tengah meningkatnya kekhawatiran fiskal, seiring wacana pemangkasan pajak penjualan sebesar 8 persen untuk bahan pangan.
Investor juga bersiap menghadapi kemungkinan pemilu kilat pada 8 Februari, karena Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berupaya mengonsolidasikan kekuasaan sekaligus mendorong agenda fiskal yang lebih ekspansif.
Sementara itu, Bank of Japan (BOJ) secara luas diperkirakan mempertahankan kebijakan moneternya tanpa perubahan pada pertemuan akhir pekan ini.
Selain Jepang, KOSPI Korea Selatan anjlok 1,19 persen, STI Singapura minus 0,67 persen, ASX 200 Australia 0,47 persen, dan Hang Seng Hong Kong 0,07 persen.
Berbeda, Shanghai Composite naik 0,43 persen.
Wall Street Jatuh di Tengah Ancaman Trump
Trump mengatakan ia tak lagi berpikir “semata-mata tentang perdamaian” setelah gagal meraih Hadiah Nobel Perdamaian, serta kembali menegaskan ancamannya untuk menaikkan tarif terhadap negara-negara Uni Eropa—Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda—serta Inggris dan Norwegia, sampai Amerika Serikat diizinkan membeli Greenland.
Ancaman tersebut kembali memicu perdagangan bertema “Sell America” yang sempat muncul setelah pengumuman tarif “Liberation Day” oleh Trump pada April lalu.
Para pemimpin Uni Eropa akan membahas langkah balasan yang mungkin diambil, termasuk pengenaan tarif senilai EUR93 miliar (sekitar USD109 miliar) atas impor dari AS, dalam pertemuan darurat di Brussel pada Kamis.
“Risiko geopolitik yang sudah lama kami bicarakan kini kembali muncul dan mulai menggeser persepsi pasar terhadap aliansi-aliasi tradisional di antara negara-negara Eropa,” kata kepala investasi Sarmaya Partners yang berbasis di New Jersey, Wasif Latif, dikutip Reuters.
Latif menambahkan, “Hal itu beriringan dengan kondisi di Jepang, di mana imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) terus naik dan pasar tampak lengah terhadap risiko tersebut. Jadi semuanya bertemu dan memicu satu hari pelepasan risiko yang cukup signifikan.”
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,76 persen, S&P 500 melemah 2,06 persen, dan Nasdaq Composite jatuh 2,39 persen.
Ketiga indeks mencatat penurunan harian terbesar sejak 10 Oktober.
Sementara indikator kecemasan investor yang paling dipantau di Wall Street, Cboe Volatility Index (VIX), melonjak ke level tertinggi dalam delapan pekan di 20,99. (Aldo Fernando)