MARKET NEWS

Bursa Asia Melemah, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi

TIM RISET IDX CHANNEL 24/07/2026 09:24 WIB

Bursa saham Asia melemah pada Jumat (24/7/2026) seiring melonjaknya harga minyak mentah hingga kembali menembus level USD100 per barel.

Bursa Asia Melemah, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi. (Foto: Reuters)

IDXChannel - Bursa saham Asia melemah pada Jumat (24/7/2026) seiring melonjaknya harga minyak mentah hingga kembali menembus level USD100 per barel.

Investor khawatir kenaikan harga energi akibat memanasnya konflik di Timur Tengah akan kembali mendorong inflasi global dan mempersulit langkah bank sentral memangkas suku bunga.

Minyak mentah Brent bertahan di kisaran USD100,85 per barel setelah sehari sebelumnya melonjak sekitar 7 persen dan sempat menyentuh USD102 per barel, level tertinggi dalam dua bulan terakhir.

Kenaikan tersebut dipicu serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap kapal tanker Saudi di Laut Merah.

Insiden itu memperburuk gangguan pasokan minyak global yang sebelumnya sudah tertekan akibat hampir tertutupnya Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

Konflik juga terus meningkat. Memasuki dua pekan sejak gencatan senjata praktis runtuh, militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke Iran.

Sementara Teheran membalas dengan meluncurkan serangan ke sejumlah negara Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Dalam sebulan terakhir, harga Brent telah melonjak hampir 40 persen.

Chief Executive Officer deVere Group, Nigel Green, mengatakan, dikutip Reuters, pasar baru mulai menyadari besarnya dampak ketika dua jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia terganggu secara bersamaan.

Menurutnya, kenaikan harga minyak di atas USD100 per barel berpotensi menghidupkan kembali tekanan inflasi yang sebelumnya mulai mereda, sehingga ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.

Kekhawatiran inflasi juga diperparah oleh rencana pemerintah Amerika Serikat (AS) menaikkan tarif impor terhadap produk dari 60 negara mitra dagang.

Kondisi tersebut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun mendekati level tertinggi sejak 2007, sementara biaya pinjaman di Eropa naik ke level yang terakhir terlihat pada 2011.

Pelaku pasar kini mulai memperkirakan bank sentral kembali bersikap lebih agresif.

Peluang Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan diperkirakan mencapai sekitar sepertiga, perubahan tajam dibandingkan ekspektasi sepekan lalu.

Sementara peluang kenaikan suku bunga pada September telah sepenuhnya diperhitungkan pasar.

Di Eropa, European Central Bank (ECB) memang mempertahankan suku bunga dalam pertemuan terakhirnya, tetapi pasar menilai peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai sekitar 70 persen.

Sentimen negatif tersebut menekan mayoritas bursa Asia. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun sekitar 1 persen, sementara indeks Nikkei 225 Jepang merosot 2,9 persen dan KOSPI Korea Selatan anjlok 3,7 persen.

Di kawasan lain, Shanghai Composite turun 0,68 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 1,22 persen, dan Straits Times Index (STI) Singapura terkoreksi 0,69 persen.

Sementara itu, kontrak berjangka Nasdaq sempat menguat tipis sekitar 0,1 persen setelah Intel membukukan kinerja yang lebih baik dari perkiraan.

Namun, sentimen positif tersebut tertutup oleh kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak dan potensi suku bunga yang lebih tinggi.

Wall Street sendiri ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya setelah laporan keuangan Alphabet dan Tesla mengecewakan investor.

Kedua perusahaan teknologi raksasa tersebut mencatat arus kas yang tertekan akibat besarnya belanja investasi untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), sehingga memicu aksi jual pada saham-saham teknologi.  (Aldo Fernando)

SHARE