Bursa Asia Menguat di Tengah Gejolak Venezuela
Bursa saham Asia menguat pada Senin (5/1/2026), seiring investor mencermati implikasi aksi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela.
IDXChannel - Bursa saham Asia menguat pada Senin (5/1/2026), seiring investor mencermati implikasi aksi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela menjelang pekan yang padat dengan rilis data ekonomi pada pekan perdagangan penuh pertama tahun ini.
Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang naik 1,2 persen, sementara kontrak berjangka S&P 500 e-mini menguat tipis 0,1 persen.
Pelaku pasar menilai dampak rangkaian peristiwa dramatis akhir pekan lalu, ketika AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Presiden AS Donald Trump pada Sabtu mengatakan Venezuela ditempatkan di bawah kendali sementara AS.
“Pelengseran Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS kecil kemungkinan menimbulkan dampak ekonomi global yang berarti dalam jangka pendek. Namun, dampak politik dan geopolitiknya akan bergema luas,” ujar Kepala Ekonom Capital Economics Neil Shearing, dikutip Reuters.
Harga minyak mentah Brent naik 0,2 persen ke level USD60,87 per barel, seiring pasar menimbang dampak intervensi AS di Venezuela serta keputusan OPEC+ pada Minggu untuk mempertahankan tingkat produksi minyak.
“Story penurunan harga minyak yang bersifat bearish sangat kecil kemungkinannya,” kata Kepala Strategi BCA Research Marko Papic di Los Angeles.
Papic melanjutkan, “Venezuela akan membutuhkan bantuan besar, baik modal maupun keahlian teknik, untuk mendongkrak produksinya mendekati kapasitas maksimum, yang pada dasarnya juga tidak terlalu mengesankan.”
Di pasar saham regional, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 2,8 persen, mendekati rekor tertinggi yang dicapai dua bulan lalu.
Indeks saham Jepang memperpanjang penguatan setelah data menunjukkan aktivitas manufaktur stabil pada Desember, mengakhiri tren penurunan selama lima bulan berturut-turut.
Indeks Kospi Korea Selatan dan TAIEX Taiwan masing-masing melesat lebih dari 2 persen dan mencetak rekor tertinggi baru.
Pasar China bergerak lebih terbatas. Indeks Hang Seng naik 0,1 persen, namun tertahan oleh pelemahan saham-saham minyak China, setelah indeks saham energi yang tercatat di Hong Kong turun 3,1 persen. Saham Australia menguat tipis 0,1 persen.
“Mengingat perkembangan tak terduga di Venezuela pada akhir pekan, masih harus dilihat apakah pemerintahan Trump memiliki selera untuk mendorong perubahan rezim lainnya,” seperti di Iran, kata Direktur Pelaksana Strategi Investasi OCBC Vasu Menon di Singapura.
“Perhitungan strategis ini berlangsung di tengah tahun pemilu paruh waktu, sehingga arah perkembangannya sulit diprediksi,” ujarnya. (Aldo Fernando)