MARKET NEWS

Bursa Asia Menguat, Investor Cermati Kebijakan Suku Bunga Global

TIM RISET IDX CHANNEL 18/09/2026 09:00 WIB

Bursa Asia menguat pada perdagangan Jumat (18/9/2026), sementara dolar Amerika Serikat (AS) AS relatif stabil.

Bursa Asia Menguat, Investor Cermati Kebijakan Suku Bunga Global. (Foto: Reuters)

IDXChannel – Bursa Asia menguat pada perdagangan Jumat (18/9/2026), sementara dolar Amerika Serikat (AS) relatif stabil.

Investor mencermati arah kebijakan moneter global di tengah upaya bank sentral menekan inflasi yang kembali meningkat akibat perang di Timur Tengah.

Sentimen pasar terbantu oleh penurunan harga minyak. Harga minyak Brent turun sekitar 1 persen menjadi USD103,77 per barel, seiring munculnya harapan bahwa jalur alternatif dapat menjaga pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global.

Meski demikian, risiko gangguan pasokan masih membayangi pasar setelah serangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran kembali terjadi.

Perang di Timur Tengah yang telah berlangsung lebih dari enam bulan juga belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, sehingga harga minyak masih bertahan di atas USD100 per barel dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Di Asia, indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang menguat 0,55 persen. Nikkei 225 Jepang naik 0,50 persen, sedangkan KOSPI Korea Selatan melonjak 2 persen.

Penguatan juga terjadi di sejumlah bursa regional lainnya. Shanghai Composite naik 0,50 persen, Hang Seng Hong Kong mendaki 0,75 persen, dan ASX 200 Australia menguat 0,16 persen.

Sementara itu, Straits Times Index (STI) Singapura turun 0,17 persen.

Penguatan bursa Asia mengikuti reli di Wall Street pada perdagangan sebelumnya, yang dipimpin saham-saham teknologi yang sebelumnya mengalami tekanan.

Di pasar obligasi, harga surat utang AS mulai stabil setelah aksi jual tajam sepanjang pekan ini mendorong imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun menembus 5 persen untuk pertama kalinya sejak 2007. Imbal hasil tersebut terakhir berada di 4,936 persen.

Pergerakan pasar juga masih dipengaruhi perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga global.

Bank of England (BoE) pada Kamis memperingatkan kemungkinan kenaikan suku bunga jika perang di Timur Tengah berlangsung lebih lama.

Sementara itu, Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada Rabu untuk pertama kalinya dalam tiga tahun dan memberi sinyal pengetatan lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.

Bank Sentral Eropa (ECB) juga sebelumnya memperingatkan perlunya pengetatan lebih lanjut setelah menaikkan suku bunga pada pekan lalu.

"Jika obligasi berbalik arah dan imbal hasil kembali naik, volatilitas dapat dengan cepat kembali," kata Head of Research Pepperstone Chris Weston, seperti dikutip Reuters.

Namun, menurut Weston, untuk sementara pembeli kembali memegang kendali di pasar. Pergerakan harga juga menunjukkan tekanan risk-off setelah keputusan The Fed mulai kehilangan momentum.

Perhatian investor kemudian beralih ke Jepang. Yen melemah ke level 156,23 per USD pada perdagangan Jumat pagi, menjelang keputusan kebijakan Bank of Japan (BOJ).

BOJ diperkirakan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun sekaligus memberikan sinyal mengenai langkah lanjutan untuk merespons risiko inflasi.

"Hal yang penting bagi pasar bukan hanya apakah BOJ menaikkan suku bunga, tetapi juga bagaimana kenaikan itu dilakukan dan bagaimana Gubernur Ueda mengomunikasikan arah kebijakan ke depan," kata Currency Strategist MUFG Michael Wan. (Aldo Fernando)

SHARE