Bursa Asia Rebound, Kospi Korsel Melesat 3 Persen
Bursa saham Asia cenderung menguat pada perdagangan Selasa (9/6/2026), seiring membaiknya sentimen investor setelah rebound saham-saham teknologi global.
IDXChannel - Bursa saham Asia cenderung menguat pada perdagangan Selasa (9/6/2026), seiring membaiknya sentimen investor setelah rebound saham-saham teknologi global.
Penguatan dipimpin oleh pasar Korea Selatan. Indeks KOSPI melonjak 3,08 persen ke 7.714,71 setelah anjlok 8,3 persen pada sesi sebelumnya, yang merupakan penurunan harian terdalam dalam tiga bulan terakhir.
Kenaikan tersebut didorong aksi beli pada saham-saham teknologi dan semikonduktor yang sebelumnya tertekan.
Bahkan pada awal perdagangan, KOSPI sempat melesat hampir 5 persen hingga memicu penerapan mekanisme sidecar, yakni pembatasan sementara perdagangan yang dirancang untuk meredam volatilitas pasar.
Sentimen positif juga datang dari Wall Street. Saham-saham teknologi Amerika Serikat (AS) bangkit pada perdagangan Senin setelah aksi jual tajam pada akhir pekan lalu.
Indeks Nasdaq ditutup naik 0,9 persen, didukung lonjakan saham-saham chip setelah investor memanfaatkan koreksi harga untuk melakukan akumulasi.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turut menguat 0,50 persen ke 64.342,87, mengakhiri tren pelemahan selama tiga hari berturut-turut.
Mengutip dpa-AFX, kenaikan ditopang saham sektor otomotif, keuangan, dan teknologi, meski masih dibayangi pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Sementara itu, pasar saham China juga bergerak positif dengan indeks Shanghai Composite naik 0,29 persen.
Indeks Straits Times (STI) Singapura menguat 0,85 persen mengikuti membaiknya sentimen regional.
Di sisi lain, tidak semua pasar berada di zona hijau. Indeks Hang Seng Hong Kong terkoreksi tipis 0,10 persen, sedangkan ASX 200 Australia melemah 0,48 persen.
Pelaku pasar juga mencermati data pertumbuhan ekonomi Korea Selatan yang lebih kuat dari perkiraan pada kuartal I-2026.
Data tersebut memperkuat keyakinan bahwa ekonomi yang ditopang ekspor masih mampu bertahan di tengah ketidakpastian perdagangan global dan perlambatan pertumbuhan dunia. (Aldo Fernando)