MARKET NEWS

Bursa Asia Rebound setelah Trump Isyaratkan Perang Iran Segera Usai

TIM RISET IDX CHANNEL 10/03/2026 08:58 WIB

Bursa saham Asia menguat dan harga minyak anjlok pada awal perdagangan Selasa (10/3/2026) setelah pasar global bergejolak pada sesi sebelumnya.

Bursa Asia Rebound setelah Trump Isyaratkan Perang Iran Segera Usai. (Foto: Reuters)

IDXChannel – Bursa saham Asia menguat dan harga minyak anjlok pada awal perdagangan Selasa (10/3/2026) setelah pasar global bergejolak pada sesi sebelumnya.

Sentimen membaik setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan bahwa perang di Timur Tengah bisa “segera berakhir”.

Indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang yang disusun MSCI naik 2,6 persen, sehingga memangkas sebagian kerugian sejak konflik dimulai.

Pada saat yang sama, harga minyak mentah Brent berjangka sempat merosot hingga 10 persen ke bawah USD90 per barel saat perdagangan kembali dibuka.

Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat bergerak lebih terbatas. S&P 500 e-mini futures turun 0,2 persen setelah sebelumnya rebound pada Senin.

Melansir dari Reuters, pernyataan Trump memicu optimisme pasar yang kontras dengan perkembangan di Iran.

Di negara itu, kelompok garis keras berkumpul untuk menyatakan dukungan terhadap Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, sebagai bentuk perlawanan.

Sinyal yang saling bertentangan tersebut membuat pasar global bergejolak pada Senin.

Harga minyak sempat melonjak sementara saham di Wall Street jatuh, sebelum akhirnya berbalik naik setelah komentar Trump dan laporan yang menyebut Washington mungkin melonggarkan sanksi terhadap energi Rusia.

Analis pasar IG di Sydney Tony Sycamore mengatakan, meskipun sentimen panik jangka pendek mulai mereda, sulit untuk sepenuhnya menerima klaim bahwa konflik tersebut sudah “sangat selesai”.

“Namun demikian, pelunakan retorika Presiden Trump, dari sebelumnya menuntut penyerahan total menjadi menyebut misi itu ‘sangat selesai’, merupakan perkembangan yang disambut baik dan setidaknya membantu menenangkan pasar Asia pada sesi hari ini,” ujarnya.

Seiring pulihnya kepercayaan investor setelah aksi jual pada Senin dan meningkatnya minat risiko dari investor ritel, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 3,6 persen. Indeks Kospi Korea Selatan bahkan melesat 6,4 persen.

Kenaikan tersebut mendorong Bursa Korea mengaktifkan mekanisme sidecar setelah kontrak berjangka naik lebih dari 5 persen, sehingga perdagangan program dihentikan selama lima menit.

Meski demikian, latar belakang pasar masih tegang. Militer Iran memperingatkan akan meningkatkan serangan misil sebagai bentuk perlawanan lanjutan.

Trump juga menegaskan ancaman keras melalui unggahan di Truth Social.

Ia mengatakan, “Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dipukul oleh AS DUA PULUH KALI LEBIH KERAS dibanding yang sudah mereka alami sejauh ini.”

Di pasar obligasi, surat utang pemerintah AS pulih setelah lonjakan harga minyak pada Senin memicu kekhawatiran inflasi dan memunculkan spekulasi bahwa bank sentral Eropa bisa memperketat kebijakan pada akhir tahun ini.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2,3 basis poin menjadi 4,109 persen. Pelaku pasar juga menunda perkiraan waktu pemangkasan suku bunga The Federal Reserve, dengan penurunan pertama kini diperkirakan baru terjadi pada Juli, menurut alat FedWatch milik CME Group.

Analis ING mengatakan imbal hasil obligasi masih berada pada level yang mengkhawatirkan.

“Kami memperkirakan imbal hasil nominal akan turun sementara sebagai bagian dari reversal trade. Namun jangan berharap reli struktural yang besar pada obligasi,” tulis mereka dalam catatan kepada klien.

ING menambahkan, “Inflasi masih menjadi tantangan yang jelas, dan ekonomi memang melemah tetapi belum keluar dari permainan.”

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia menghapus seluruh kenaikan dalam sepekan terakhir dan tercatat turun 0,1 persen ke level 98,79. (Aldo Fernando)

SHARE