Bursa Asia Sentuh Level Tertinggi 6 Pekan, Harapan Damai AS-Iran Menguat
Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Rabu (15/4/2026), mengikuti reli Wall Street.
IDXChannel – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Rabu (15/4/2026), mengikuti reli Wall Street seiring meningkatnya harapan dimulainya kembali perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Optimisme pasar muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan dengan Iran berpotensi dilanjutkan di Pakistan dalam beberapa hari ke depan.
Pernyataan ini turut diperkuat pejabat Pakistan dan Iran yang mengindikasikan negosiasi akan kembali bergulir.
Harapan meredanya konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak turun tajam. Brent crude melemah 0,7 persen ke USD94,13 per barel setelah sebelumnya anjlok hampir 5 persen, turun dari level psikologis USD100 per barel.
Sentimen positif tersebut mengangkat pasar saham kawasan. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 1,5 persen ke level tertinggi dalam enam pekan. Sementara itu, Nikkei 225 Jepang menguat 1,2 persen mendekati rekor tertinggi.
Di kawasan lain, indeks CSI 300 China naik 0,5 persen dan Hang Seng Index bertambah 1,2 persen. Bursa Australia dan Singapura juga bergerak positif, masing-masing naik tipis.
Analis IG Tony Sycamore menilai pergerakan aset berisiko menunjukkan pasar mulai mengabaikan dampak jangka pendek konflik.
Ia menyebut ekspektasi penyelesaian konflik semakin menguat dan dapat membuka ruang bagi kebijakan stimulus ekonomi di AS.
Dari AS, reli Nasdaq Composite yang naik 2 persen dan mencatat kenaikan selama 10 hari beruntun turut menopang sentimen global.
Data inflasi produsen AS yang lebih rendah dari perkiraan juga membantu meredakan kekhawatiran inflasi akibat perang.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor dua tahun turun ke 3,704 persen, sementara tenor 10 tahun berada di 4,24 persen. Adapun US Dollar Index cenderung stabil setelah melemah selama tujuh hari berturut-turut.
Meski demikian, risiko belum sepenuhnya reda. International Monetary Fund (IMF) memperingatkan ekonomi global bisa mendekati resesi jika konflik memburuk, terutama dengan masih terganggunya aliran minyak melalui Selat Hormuz. (Aldo Fernando)