Bursa Asia Tumbang, KOSPI Korsel Jatuh 6 Persen
Bursa saham Asia turun tajam pada perdagangan Selasa (13/10/2026), dipimpin saham teknologi.
IDXChannel - Bursa saham Asia turun tajam pada perdagangan Selasa (13/10/2026), dipimpin saham teknologi, di tengah meluasnya konflik di Timur Tengah yang membuat harga minyak tetap tinggi dan menopang dolar AS.
Investor juga mulai bersiap menghadapi musim laporan keuangan yang diperkirakan menentukan arah pasar hingga akhir tahun.
Harga energi kembali menjadi penggerak utama pasar global ketika investor mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina.
Kontrak berjangka (futures) minyak mentah Brent berada di kisaran USD105,9 per barel, mendekati level tertinggi dalam dua pekan.
Pasar minyak bergerak volatil karena investor memperhitungkan risiko gangguan pasokan akibat serangan terhadap Arab Saudi, sekaligus mempertimbangkan potensi tambahan pasokan diesel dari Rusia.
"Pasar kembali menyadari bahwa geopolitik menjadi faktor paling penting ketika dampaknya kembali mendorong inflasi," kata Chief Investment Strategist Saxo di Singapura Charu Chanana, seperti dikutip Reuters.
"Kenaikan harga minyak kembali memberikan tekanan terhadap imbal hasil obligasi dan mengurangi daya tarik saham-saham pertumbuhan yang mahal, terutama karena gencatan senjata energi Rusia-Ukraina terlihat rapuh dan risiko pasokan dari Timur Tengah masih terbuka," ujarnya.
Di pasar saham, indeks MSCI yang mencakup saham-saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 2 persen pada awal perdagangan.
Indeks KOSPI Korea Selatan yang didominasi saham teknologi merosot 6,70 persen per 08.58 WIB, sementara indeks Nikkei Jepang anjlok 2,70 persen setelah kembali diperdagangkan usai libur.
"Sebagian besar penurunan ini berkaitan dengan aksi jual saham semikonduktor di Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Tekanan tersebut kemudian merembet ke kawasan Asia," kata Senior Analyst Capital.com Kyle Rodda.
Pada perdagangan sebelumnya, indeks Nasdaq yang sarat saham teknologi turun 0,5 persen, tertekan saham-saham produsen chip.
Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI) di tengah meningkatnya persaingan antara Amerika Serikat (AS) dan China.
"Ketika ditambah dengan kenaikan harga minyak dan aksi positioning menjelang data inflasi serta musim laporan keuangan, semua faktor tersebut menjadi kombinasi yang mendorong pasar Asia ke mode risk-off," ujar Rodda.
Sentimen hati-hati turut menjaga dolar AS di dekat level tertinggi dalam 18 bulan. Euro terakhir diperdagangkan di level USD1,1157, sedangkan yen Jepang berada di level 158,50 per USD.
Perhatian investor pekan ini tertuju pada serangkaian laporan keuangan bank-bank AS untuk mengukur dampak kenaikan imbal hasil Treasury baru-baru ini terhadap aktivitas transaksi, pertumbuhan kredit, dan biaya pendanaan di sektor perbankan.
Tekanan inflasi akibat tingginya harga energi, ditambah kekhawatiran terhadap membengkaknya utang pemerintah, telah memicu sejumlah aksi jual di pasar obligasi dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut mendorong biaya pinjaman ke level tertinggi dalam beberapa dekade di berbagai negara. (Aldo Fernando)