Bursa Eropa Tertekan di Awal Oktober, Yield Obligasi dan Harga Energi Jadi Beban
Indeks STOXX 600, yang mencerminkan kinerja saham-saham utama Eropa, sempat anjlok 1,4 persen dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan.
IDXChannel - Bursa saham Eropa dibuka melemah mengawali perdagangan Oktober pada perdagangan Kamis (1/10/2026) waktu setempat.
Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah, meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara Eropa, serta inflasi energi menjadi sentimen utama yang membebani pasar.
Melansir Investing, Indeks STOXX 600, yang mencerminkan kinerja saham-saham utama Eropa, sempat anjlok 1,4 persen dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir. Namun, indeks tersebut kemudian memangkas sebagian pelemahan dan diperdagangkan turun 0,4 persen.
Di bursa utama, indeks CAC 40 Prancis melemah 0,6 persen, sedangkan DAX Jerman bergerak datar. Sementara itu, indeks FTSE 100 Inggris turun 0,8 persen.
Yield Obligasi dan Risiko Fiskal
Tekanan terhadap pasar saham Eropa terjadi seiring aksi jual obligasi pemerintah secara global dalam beberapa pekan terakhir. Investor melepas surat utang pemerintah di tengah kekhawatiran inflasi yang persisten dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman bertenor 10 tahun, yang menjadi acuan pasar zona euro, naik 1 basis poin setelah sebelumnya menyentuh 3,6526 persen pada awal pekan. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juni 2009.
Di Prancis, yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2002. Pergerakan tersebut terjadi menjelang Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu mengumumkan rancangan anggaran 2027.
Pemerintah Prancis menargetkan pemangkasan belanja sebesar €54 miliar untuk mengatasi defisit yang diproyeksikan mencapai 5,4% dari produk domestik bruto (PDB).
Kenaikan biaya pinjaman yang bertahan tinggi berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang bagi korporasi dan pemegang kredit perumahan. Kondisi tersebut sekaligus menambah tekanan terhadap keuangan pemerintah di kawasan euro.
Harga Energi Jadi Perhatian
Tekanan terhadap pasar Eropa semakin besar akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik selama tujuh bulan belum menunjukkan perkembangan yang mampu meredakan kekhawatiran di pasar energi.
Harga minyak mentah global dan gas alam Eropa masih berada pada level tinggi, sehingga menambah tekanan terhadap perekonomian kawasan.
Kenaikan harga energi mulai tercermin dalam data inflasi. Data awal September menunjukkan inflasi konsumen meningkat lebih cepat dari perkiraan di sejumlah negara utama Eropa, termasuk Prancis, Italia, dan Spanyol.
Kenaikan tersebut terutama didorong oleh lonjakan harga bensin, diesel, serta gas grosir. Tekanan inflasi yang masih tinggi memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam waktu lebih lama guna mencegah inflasi menjadi tekanan yang menetap.
Investor institusi juga masih berhati-hati dan mempertahankan posisi kas yang relatif tinggi. Pelaku pasar mencermati apakah tingginya biaya pinjaman dan harga energi akan memberikan tekanan lebih besar dibandingkan ketahanan ekonomi zona euro.
Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham bergerak positif. Saham Sanofi naik 2,6 persen setelah perusahaan farmasi asal Prancis tersebut mencapai kesepakatan dengan Regeneron.
Dalam kesepakatan tersebut, Sanofi akan membayar uang muka sebesar USD1 miliar kepada Regeneron, dengan potensi pembayaran tambahan hingga USD7 miliar untuk memperluas kemitraan kedua perusahaan.
(DESI ANGRIANI)