MARKET NEWS

CHIP Tetap Bagikan Dividen Meski Laba Turun 50 Persen Akibat Geopolitik, Segini Besarannya

Ibnu Hariyanto 29/06/2026 18:31 WIB

PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP) membagikan  dividen tunai sebesar Rp1,43 per lembar saham dari laba bersih tahun buku 2025 meskipun laba bersih perseroan

PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP) membagikan  dividen tunai sebesar Rp1,43 per lembar saham dari laba bersih tahun buku 2025 (foto: Istimewa)

IDXCHANNEL- PT Pelita Teknologi Global Tbk (CHIP) membagikan  dividen tunai sebesar Rp1,43 per lembar saham dari laba bersih tahun buku 2025 meskipun laba bersih perseroan turun 50 persen. 

Keputusan disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Hotel Aston Priority, TB Simatupang, Jakarta, Senin (29/6/2026). Angka dividen yang dibagikan setara 25 persen dari total laba bersih perseroan. 

Direktur Keuangan CHIP, Hasri Zulkarnaen, mengakui kinerja perseroan pada 2025 mengalami tekanan akibat pelemahan daya beli domestik dan gejolak geopolitik dunia. Laba bersih perusahaan turun hampir 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi sekitar Rp4 miliar, dari sebelumnya Rp8 miliar. 

Penjualan juga mengalami penurunan, meskipun arus kas operasional perseroan masih tercatat positif sebesar Rp1,2 miliar. Namun dia menegaskan perseroan tetap komitmen untuk membagikan dividem

"Walaupun laporan kita tahun 2025 dengan adanya geopolitik terus ekonomi di Indonesia juga lagi mengalami penyesuaian, tapi kita komitmen konsisten untuk pembagian dividen di tahun 2025," ujar Hasri.

Dari sisi neraca, total aset CHIP pada 2025 tercatat sekitar Rp115 miliar, meningkat dari Rp113 miliar pada 2023. Perseroan juga berhasil menekan rasio utang, dengan current ratio mencapai tiga kali lipat kewajiban jangka pendek dan debt to equity ratio di angka 69 persen. 

Rasio liabilitas terhadap aset berada di level 41 persen, mencerminkan struktur keuangan yang masih terjaga sehat.
RUPST juga menyetujui pengalokasian Rp200 juta ke dana cadangan sesuai ketentuan Undang-Undang Perseroan Terbatas, penetapan honorarium direksi dan komisaris dengan kenaikan tidak melebihi 10 persen dari tahun lalu, serta penunjukan kantor akuntan publik yang akan ditindaklanjuti oleh Komite Audit, Remunerasi, dan Nominasi.

Di tengah tekanan nilai tukar rupiah terhadap USD yang melonjak 20–30% dalam tiga hingga empat bulan terakhir, CHIP mengambil langkah mitigasi dengan memperbesar stok bahan baku untuk jangka tiga hingga enam bulan ke depan. Strategi ini memungkinkan perseroan mengamankan harga sebelum kenaikan dolar berlaku penuh. Selain itu, pendapatan ekspor dalam mata uang dolar dari pelanggan Zambia Telecom turut memberikan efek lindung nilai alami terhadap pembelian bahan baku impor.

"Dengan adanya penjualan ekspor, Zambia itu membantu kami juga. Karena kan dolar naik, otomatis kita ada keuntungan foreign exchange. Artinya bisa substitusi silang antara kita penjualan ekspor sama pembelian bahan baku," jelas Hasri.

Sementara itu, Direktur Utama CHIP, Ardarini, menyebut perseroan kini tengah menjajaki kontrak dengan agen bisnis di Nigeria sebagai langkah ekspansi lanjutan di benua Afrika. Langkah ini menyusul keberhasilan kemitraan dengan Zambia Telecom. Perseroan menargetkan dapat menambah dua negara baru pada 2027. 

Produk eSIM yang dikembangkan perseroan disebut sebagai salah satu unggulan yang akan dipasarkan ke pasar Afrika, seiring dengan dorongan regulasi pemerintah di berbagai negara yang mewajibkan penggunaan eSIM demi alasan keamanan data.

(Ibnu Hariyanto_

SHARE