Cikarang Listrindo (POWR) Patok Dividen Final USD45,2 Juta
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) menyepakati pembagian dividen tunai sebesar USD68,16 juta untuk tahun buku 2025.
IDXChannel - Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) menyepakati pembagian dividen tunai sebesar USD68,16 juta untuk tahun buku 2025.
Dalam RUPS yang dilaksanakan pada Jumat (8/6/2026), total dividen tersebut sudah termasuk dividen interim yang telah dibagi kepada pemegang saham pada 12 Desember 2025 sebesar USD22,95 juta.
"Sehingga dividen tunai yang masih akan dibayarkan kepada para pemegang saham sejumlah USD45,2 juta," kata manajemen POWR.
Adapun sisanya sebesar USD3,8 juta akan digunakan untuk menambah saldo laba (retained earning). Hal ini dalam rangka memperkuat permodalan jangka panjang perseroan.
Sebelumnya, produsen listrik swasta tersebut telah menebar dividen interim sebesar Rp24,21 per saham. Dengan asumsi laba per saham tahun buku 2025 sebesar Rp73,80, maka dividen final yang tersisa sebesar Rp45,59 per saham.
Kendati demikian, angka ini bukan perhitungan resmi dari manajemen. Nantinya, perseroan akan mengumumkan besaran nilai dalam rupiah, termasuk jadwal dan tata cara pembagian dividen melalui keterbukaan informasi.
Saham POWR ditutup menguat tipis pada perdagangan Jumat sore. Harga sahamnya kini berada di level Rp745 per saham.
Sepanjang tahun lalu, Cikarang Listrindo membukukan penjualan neto USD553,5 juta dengan laba bersih mencapai USD72,1 juta. Laba tersebut mencerminkan margin sebesar 13 persen.
Secara operasional, perseroan membukukan penjualan listrik sebesar 4.150 GWh dengan daya tersambung mencapai 1.376 MVA. Faktor ketersediaan listrik dari pembangkit sebesar 96 persen dengan faktor kapasitas neto 54 persen.
Sebagai penyedia listrik swasta, perseroan memiliki lebih dari 2.500 pelanggan di mana 75 persen merupakan pelanggan perseroan selama lebih dari 10 tahun. Pelanggan tersebut berasal dari beragam industri seperti otomotif, elektronik, plastik, makanan, kimia, barang konsumsi, tekstil, dan pusat data (data center).
(Rahmat Fiansyah)