Cukai Baru Jadi Katalis, Saham Rokok HMSP-WIIM Diproyeksi Bangkit
Industri rokok berpeluang memasuki fase pemulihan setelah pemerintah menyiapkan lapisan tarif cukai baru yang dinilai dapat menekan peredaran rokok ilegal.
IDXChannel – Industri rokok berpeluang memasuki fase pemulihan setelah pemerintah menyiapkan lapisan tarif cukai baru yang dinilai dapat menekan peredaran rokok ilegal sekaligus memperbaiki daya saing produk rokok legal.
Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Jason Chandra dalam riset yang terbit 18 Agustus 2026 menilai kebijakan tersebut berpotensi menjadi katalis bagi industri rokok pada 2027.
Berdasarkan rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 yang diumumkan pada 14 Agustus 2026, pemerintah menargetkan penerimaan cukai tumbuh relatif datar pada 2027.
CGSI menilai target tersebut salah satunya akan ditopang oleh pengenalan lapisan tarif cukai rokok baru yang ditujukan untuk melegalkan segmen rokok ilegal.
CGSI memperkirakan sekitar 45 miliar batang rokok ilegal atau setara dengan 17 persen pangsa volume pasar pada 2025 dapat masuk ke dalam lapisan tarif baru tersebut.
Dengan penerapan tarif baru, harga rokok ilegal diperkirakan naik sekitar 3 persen. Kenaikan tersebut dinilai diperlukan agar produsen tetap dapat mempertahankan margin setelah produk masuk ke dalam sistem cukai.
Daya Saing Rokok Legal Membaik
CGSI menilai kenaikan harga rokok ilegal justru dapat menjadi katalis bagi produk rokok legal yang memiliki struktur harga bertingkat.
Jika harga rokok ilegal semakin mendekati harga produk legal, rokok legal dinilai menjadi lebih kompetitif. Kondisi tersebut berpotensi mengembalikan permintaan sekaligus mendorong pemulihan volume penjualan industri.
“Berdasarkan hasil pengecekan kami di lapangan, harga produk utama GGRM/HMSP/WIIM telah naik 1-4 persen sepanjang tahun berjalan,” tulis Jason dalam risetnya.
Kenaikan harga produk utama PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya kepercayaan produsen terhadap prospek pemulihan permintaan di bawah rezim tarif baru.
Pemulihan volume penjualan juga mulai terlihat. Berdasarkan data industri pada kuartal II-2026, volume penjualan tumbuh 3 persen secara tahunan (yoy) secara berurutan, setelah mengalami kontraksi selama dua tahun terakhir.
CGSI Pertahankan Overweight
Dengan kombinasi kenaikan harga dan pemulihan volume penjualan, CGSI mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor rokok.
CGSI memperkirakan pemulihan tersebut dapat menopang pertumbuhan laba per saham (EPS) sektor yang kuat, dengan compound annual growth rate (CAGR) sekitar 11 persen pada periode 2026-2028.
Dari sisi valuasi, sektor rokok juga dinilai menarik. Saham-saham sektor tersebut saat ini diperdagangkan pada sekitar 8 kali price-to-earnings ratio (P/E) untuk proyeksi tahun buku 2027, atau sekitar dua standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun.
Selain itu, estimasi dividend yield sektor pada 2027 berada di kisaran 11-12 persen.
Menurut CGSI, katalis yang dapat mendorong re-rating sektor antara lain penindakan menyeluruh terhadap rokok ilegal dan volume penjualan yang lebih tinggi dari perkiraan.
Sebaliknya, risiko utama berasal dari volume penjualan yang lebih lemah dari ekspektasi serta peningkatan belanja iklan yang lebih tinggi untuk mempertahankan pertumbuhan pendapatan.
WIIM Jadi Pilihan Utama
Di antara saham rokok yang menjadi cakupan analis, WIIM menjadi pilihan utama CGSI.
CGSI memberikan rekomendasi Add dengan target harga Rp2.500 per unit. Saham WIIM dinilai memiliki valuasi menarik dan berpotensi melakukan kenaikan harga lebih agresif dibandingkan perusahaan lain.
WIIM juga diperdagangkan pada sekitar 5 kali P/E FY2026F, dengan pertumbuhan laba yang solid dan estimasi dividend yield sekitar 10 persen untuk 2026.
Sementara itu, GGRM juga mendapat rekomendasi Add dengan target harga Rp20.300 per unit.
CGSI menilai GGRM secara bertahap telah menaikkan harga jual rata-rata (ASP) produk utamanya. Bisnis bandar udara perseroan juga mulai menunjukkan pemulihan.
Namun, analis tetap mencermati investasi GGRM pada proyek infrastruktur yang berpotensi membatasi pembayaran dividen ke depan.
Kemudian, HMSP memperoleh rekomendasi Add dengan target harga Rp1.060 per unit, dibandingkan harga penutupan Rp755.
CGSI menyukai HMSP karena konsisten menaikkan harga produk dan memiliki rekam jejak pembayaran dividen 100 persen dari laba selama 12 tahun terakhir.
Dalam terminologi CGSI, rekomendasi Add berarti saham diperkirakan memberikan total return lebih dari 10 persen dalam 12 bulan ke depan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.