Dana Asing Mulai Balik Arah, Pasar Saham RI Lebih Prospektif di 2026
Optimisme tersebut muncul setelah pasar modal sepanjang 2025 bergerak dalam volatilitas tinggi akibat dinamika arus dana asing
IDXChannel - PT Insight Investments Management (IIM) memproyeksikan pasar saham Indonesia berpeluang mencatatkan kinerja yang lebih konstruktif pada 2026, seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi domestik serta potensi pelonggaran likuiditas global.
Optimisme tersebut muncul setelah pasar modal sepanjang 2025 bergerak dalam volatilitas tinggi akibat dinamika arus dana asing dan tekanan kinerja laba emiten.
IIM mencatat, sepanjang 2025 arus dana asing sempat mengalami tekanan signifikan dengan outflow mencapai Rp54 triliun pada September 2025, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar di sektor keuangan dan konsumer.
Namun, sentimen pasar mulai berbalik positif pada Oktober hingga November 2025, ditandai dengan kembalinya inflow asing sekitar Rp25 triliun ke pasar saham domestik.
Dari sisi fundamental, kinerja laba emiten yang tergabung dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami kontraksi sekitar 9 persen sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Meski demikian, pergerakan indeks justru menunjukkan ketahanan yang kuat.
“Hingga penutupan Desember 2025, IHSG naik 22,1 persen ke level 8.646. Penguatan ini terutama didorong oleh saham-saham konglomerasi seperti DSSA, DCII, BRPT, TLKM, ASII, dan BRMS,” ujar Direktur PT Insight Investments Management, Camar Remoa, dalam paparan Market Outlook 2026, dikutip Minggu (18/1/2026).
Sebaliknya, saham-saham big cap tradisional, khususnya perbankan yang mendominasi indeks LQ45 dan SRI Kehati, mencatatkan kenaikan yang relatif terbatas. Indeks LQ45 hanya menguat 2,41 persen, sementara SRI Kehati naik 2,02 persen sepanjang 2025.
Memasuki 2026, Camar menilai pemulihan ekonomi domestik yang semakin solid berpotensi menjadi katalis utama bagi pasar saham. Pulihnya daya beli masyarakat diperkirakan akan mendorong perbaikan kinerja emiten, sekaligus membuka ruang bagi investor untuk kembali memburu peluang pertumbuhan di bursa.
Selain faktor domestik, peluang liquidity easing global juga menjadi sentimen positif. Tren penurunan suku bunga serta potensi kebijakan Quantitative Easing di Amerika Serikat dinilai dapat memperbaiki ekspektasi pertumbuhan ekonomi global dan mendorong aliran modal asing masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Likuiditas yang lebih longgar berpotensi meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham dan reksa dana berbasis saham,” kata Camar.
IIM menilai reksa dana saham semakin menarik, ditopang oleh valuasi indeks yang masih berada di bawah rata-rata historis lima tahun serta tingkat dividend yield yang relatif tinggi.
Dalam konteks ini, Reksa Dana Insight SRI-Kehati Likuid (I-SRI Likuid) disebut sebagai salah satu alternatif bagi investor dengan profil risiko agresif, mengingat portofolionya berisi saham-saham berlikuiditas tinggi dan berdividen menarik.
Sementara itu, bagi investor dengan toleransi risiko lebih tinggi dan pendekatan conviction-based investing, Insight Wealth dinilai dapat menjadi pilihan, dengan portofolio saham yang diseleksi secara aktif oleh manajer investasi.
“Dua reksa dana saham ini memiliki jejak kinerja yang kompetitif terhadap benchmark sehingga diharapkan mampu memanfaatkan peluang pemulihan pasar saham secara lebih terukur,” tutur Camar.
Meski prospek 2026 dinilai lebih positif, IIM tetap menekankan pentingnya strategi investasi yang disiplin dan terdiversifikasi. Untuk menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas pasar, reksa dana pasar uang dinilai masih relevan sebagai instrumen pengelolaan likuiditas.
IIM merekomendasikan Reksa Dana I-Money sebagai solusi investasi dengan profil risiko rendah dan likuiditas terjaga, serta I-Mosy sebagai alternatif reksa dana syariah bagi investor dengan horizon investasi jangka pendek.
“Disiplin dalam alokasi aset dan pemilihan instrumen yang tepat akan menjadi kunci bagi investor dalam menghadapi dinamika pasar pada 2026,” pungkas Camar.
(DESI ANGRIANI)