Danantara Imbau Investor Tak Terjebak Sentimen MSCI, Kinerja Emiten Lebih Penting
Danantara Indonesia mengimbau investor pasar modal untuk tidak terjebak dengan sentimen negatif jangka pendek seperti MSCI.
IDXChannel - Danantara Indonesia mengimbau investor pasar modal untuk tidak terjebak dengan sentimen negatif jangka pendek seperti MSCI. Investor sebaiknya melihatnya kinerja fundamental perusahaan sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual saham.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir menilai, rencana MSCI membuka konsultasi penurunan (downgrade) pasar saham Indonesia ke standalone market tidak berarti bahwa kualitas perusahaan Indonesia memburuk.
"Ada persoalan yang perlu diperbaiki (pasar modal), tapi bukan berarti perusahaan-perusahaan di bursa kita memiliki fundamental yang buruk," kata Pandu melalui akun instagram pribadinya @pandusjahrir, Kamis (22/10/2026).
Pandu menjabarkan dari 146 emiten dengan pendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, terdapat 134 emiten yang berhasil membukukan laba. Bahkan laba agregrat perusahaan-perusahaan tersebut sepanjang semester I-2026 tumbuh 15 persen secara tahunan.
Sementara itu, pendapatan perusahaan tercatat tersebut secara agrerat juga mengalami pertumbuhan 7 persen di periode yang sama dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pandu juga mengungkapkan, saat ini terdapat 121 emiten nonkeuangan yang memiliki posisi kas dan setara kas Rp583 triliun hingga Juni 2026. Angka ini meningkat 13 persen yang menggambarkan kapasitas perusahaan untuk melakukan ekspansi usaha atau melakukan aksi korporasi seperti akuisisi perusahaan lain.
"Kita juga perlu membedakan persoalan tata kelola pasar dengan fundamental perusahaan. Pasarnya silakan saja dibenahi, tetapi kekuatan bisnis perusahaan Indonesia tetap perlu dilihat secara objektif," katanya..
Dia juga menyebut bahwa dari 146 emiten dengan memiliki pendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, sebanyak 61 perusahaan memiliki return of equity (ROE) di atas 15 persen. Sementara di sektor perbankan maupun barang konsumsi, ada perusahaan yang memiliki return on investment (ROI) sekitar 20 persen dan price to earning (PER) di bawah 10 kali.
Perusahan-perusahaan dengan spesifikasi tersebut, kata Pandu, menarik untuk dicermati bagi para investor di pasar modal. Sehingga keputusan investasi tidak hanya sekedar didasari oleh isu atau sentimen yang beredar di pasar.
"Peluangnya juga tersebar di berbagai sektor. Jadi intinya nih, lihat kualitas bisnis dan harganya secara bersama. Bukan hanya sentimen pasar," katanya.
Pandu juga menyoroti valuasi saham-saham di Bursa Efek yang semakin menarik. Sejumlah rasio bisa digunakan investor seperti price to earning ratio (PER) adalah metode untuk membandingkan harga saham dengan laba perusahaan dan price to book value (PBV) yang mengukur harga saham dengan ekuitas.
Terlepas dari aspek fundamental, Pandu menilai, masukan dari investor maupun penyedia indeks terkait perbaikan tata kelola di pasar modal juga perlu diperhatikan regulator dan harus menjadi pembenahan.
"Masukan dari investor maupun penyedia indeks harus kita dengarkan sebagai bahan perbaikan. Kepentingan Indonesia justru kita perkuat dengan membangun pasar yang transparan, adil, dan dipercaya," pungkasnya.
(Rahmat Fiansyah)