MARKET NEWS

Data Inflasi AS hingga Perkembangan Geopolitik Jadi Penentu Sentimen Pasar Pekan Ini

Nia Deviyana 12/10/2026 06:11 WIB

Pekan yang berlangsung 12-16 Oktober 2026 menjadi cukup krusial bagi pasar menyusul rilis data makroekonomi terpenting Indeks Harga Konsumen.

Data Inflasi AS hingga Perkembangan Geopolitik Jadi Penentu Sentimen Pasar Pekan Ini. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Pekan yang berlangsung 12-16 Oktober 2026 menjadi cukup krusial bagi pasar menyusul rilis data makroekonomi terpenting Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS untuk September, yang akan diumumkan pada Rabu 

Para ekonom memperkirakan inflasi tahunan meningkat dari 3,4 persen pada Agustus menjadi sekitar 3,7 persen pada September. 

Kenaikan ini diperkirakan terutama didorong meningkatnya harga bensin. Karena investor telah memperhitungkan kenaikan inflasi, perhatian utama akan tertuju pada inflasi inti (core inflation), yang tidak memasukkan harga pangan dan energi. Inflasi inti diperkirakan naik 0,2 persen secara bulanan.

Angka inflasi inti yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan oleh The Fed. Kondisi ini berpotensi mendorong imbal hasil obligasi AS naik. Sebagai dampaknya, menekan saham teknologi serta saham berorientasi pertumbuhan. Sebaliknya, inflasi inti yang sesuai atau lebih rendah dari perkiraan dapat meredakan tekanan di pasar obligasi dan saham.

ASML juga akan merilis laporan keuangan kuartalannya pada Rabu. Setelah harga saham di sektor semikonduktor terkoreksi dalam beberapa waktu terakhir, investor akan mencermati penerimaan pesanan serta prospek bisnis perusahaan untuk 2027. Dengan demikian, hasil kinerja dan proyeksi ASML berpotensi memberikan pengaruh signifikan terhadap sentimen di seluruh sektor semikonduktor.

Musim laporan keuangan kuartal III di AS akan dimulai pada Selasa, antara lain dengan publikasi kinerja JPMorgan Chase dan Goldman Sachs. Laporan tersebut akan memberikan gambaran lebih jelas kepada investor mengenai profitabilitas sektor perbankan dan kondisi perekonomian AS.

Pada Kamis, data penjualan ritel AS untuk September akan dirilis. Setelah mencatat kenaikan kuat sebesar 1,2 persen pada Agustus, pertanyaan utamanya adalah apakah belanja konsumen akan tetap solid di tengah perlambatan pertumbuhan lapangan kerja dan tekanan terhadap daya beli akibat inflasi yang lebih tinggi.

Pada Jumat, angka final inflasi zona euro untuk September akan diumumkan. Berdasarkan estimasi awal, inflasi meningkat dari 3,2 persen pada Agustus menjadi 3,8 persen pada September, lebih tinggi dari perkiraan. Revisi naik lebih lanjut berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan oleh Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB).

Selain rilis data ekonomi tersebut, perkembangan geopolitik terkait Iran dan Selat Hormuz tetap menjadi faktor penting bagi pasar keuangan. Kenaikan harga minyak lebih lanjut dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi ekspektasi suku bunga. Sebaliknya, meredanya ketegangan dapat membantu memulihkan kepercayaan investor di pasar saham dan obligasi.

Dari dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak dalam tren cautiously optimistic pada perdagangan sepekan ke depan. Peluang terjadinya technical rebound dinilai terbuka lebar selama indeks mampu menahan posisinya di atas level psikologis.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, pergerakan pasar saham domestik akan ditopang solidnya indikator ekonomi dalam negeri serta meredanya sentimen negatif dari ranah global.

"Selama IHSG masih mampu bertahan di level 6.000 atau lebih, maka dari itu peluang terjadinya technical rebound terbuka lebar. Untuk perdagangan IHSG pada pekan nanti memang dalam kategori cautiously optimistic," ujar Nafan kepada IDX Channel, Minggu (11/10/2026).

Dari dalam negeri, kondisi makroekonomi Indonesia menunjukkan fondasi yang tetap terjaga. Nilai tukar rupiah cenderung stabil di bawah Rp17.900 per USD, sementara penjualan eceran Agustus 2026 mencatatkan pertumbuhan 1,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 1,1 persen.

(NIA DEVIYANA)

SHARE