MARKET NEWS

Deretan Saham Konglomerat yang Jatuh hingga ARB

TIM RISET IDX CHANNEL 02/02/2026 15:27 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada Senin (2/2/2026), seiring berlanjutnya tekanan jual pada saham-saham konglomerat berkapitalisasi besar.

Deretan Saham Konglomerat yang Jatuh hingga ARB. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada Senin (2/2/2026), seiring berlanjutnya tekanan jual pada saham-saham konglomerat berkapitalisasi besar.

Tekanan pasar kian meningkat karena investor mencermati sentimen negatif menyusul peringatan MSCI pekan lalu terkait isu investability atau kelayakan investasi pasar saham Indonesia, khususnya menyangkut transparansi struktur kepemilikan publik (free float).

Di sisi lain, otoritas saat ini tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk merespons dan mengatasi persoalan tersebut.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 15.01 WIB, IHSG terkoreksi tajam 5,32 persen ke 7.886,10. Nilai transaksi mencapai Rp23,87 triliun dan volume perdagangan 40,78 miliar saham.

Sebanyak 768 saham turun, hanya 49 saham yang naik, dan 141 sisanya stagnan.

Saham-saham konglomerat pun tumbang, bahkan banyak yang jatuh hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 15 persen.

Dari Grup Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) merosot 15 persen ke Rp1.105 per saham, disusul PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang ambles 15 persen menjadi Rp680 per saham.

Tekanan serupa juga menimpa PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), serta PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang turun 14,81 persen.

Sementara itu, dari Grup Barito milik Prajogo Pangestu, PT Petrosea Tbk (PTRO) tumbang 15 persen ke Rp6.000 per saham, diikuti PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA). Saham lain yang terafiliasi Prajogo juga mencatatkan penurunan tajam.

Dari kelompok usaha yang dipimpin Happy Hapsoro, tekanan jual hingga ARB terjadi pada PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Red Planet Indonesia Tbk (PSKT), hingga PT Pakuan Tbk (UANG).

Saham-saham milik Haji Isam turut terkapar hingga ARB, antara lain PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE).

Tekanan juga menjalar ke sejumlah grup besar lainnya, seperti Grup Sinarmas melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), Grup Merdeka melalui PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), serta Grup Emtek melalui PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).

Selain itu, saham PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) milik Hermanto Tanoko serta saham Grup Salim seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk (AHAP) juga tak luput dari tekanan.

Sebelumnya, IHSG tercatat sempat turun tajam 8 persen secara intraday pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1) lalu hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit.

Tekanan pasar muncul setelah pengelola indeks global MSCI menyatakan akan menunda perubahan indeks hingga regulator Indonesia menuntaskan isu kepemilikan saham yang dinilai terlalu terkonsentrasi.

Dalam penilaiannya, MSCI menyinggung adanya masalah fundamental dari sisi investabilitas atau kelayakan investasi, dengan free float menjadi sorotan utama.

Rendahnya porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan dinilai membatasi likuiditas hingga meningkatkan volatilitas.

Merespons sorotan MSCI tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self Regulatory Organization (SRO) menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari penyampaian data kepemilikan saham emiten yang lebih rinci sesuai praktik internasional hingga rencana penerbitan aturan free float minimum 15 persen bagi emiten baru maupun yang telah tercatat. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE