Dolar AS Melemah Usai Meredanya Serangan ke Iran, Investor Nantikan Rapat The Fed
Sentimen pasar didukung laporan bahwa Pakistan dan Iran tengah menjajaki pembicaraan damai baru dengan AS serta ekspor minyak dari Timur Tengah tetap mengalir.
IDXChannel - Dolar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya pada awal perdagangan Asia, Senin (27/7/2026) setelah Amerika Serikat menghentikan sementara serangannya di Iran selama akhir pekan. Langkah tersebut berhasil memicu penurunan harga minyak dan meningkatkan kepercayaan investor global.
Melansir Reuters, terhadap yen Jepang, dolar AS turun 0,2 persen menjadi 163,585 yen, penurunan terbesar sejak 10 Juli. Sementara itu, euro menguat 0,2 persen ke level USD1,1397, sedangkan poundsterling Inggris naik dengan besaran yang sama menjadi USD1,3353.
Harga minyak turun tajam pada awal perdagangan Asia. Minyak mentah Brent anjlok 4,7 persen menjadi USD92,19 per barel.
Pejabat senior Iran mengatakan bahwa Teheran juga akan menghentikan serangannya selama AS melakukan hal yang sama. Pernyataan itu muncul setelah adanya dorongan yang dipimpin China untuk melanjutkan kembali upaya diplomatik yang sempat terhenti di Pakistan guna mengakhiri perang.
“Sentimen pasar didukung oleh laporan bahwa Pakistan dan Iran tengah menjajaki pembicaraan damai baru dengan AS serta ekspor minyak dari Timur Tengah tetap mengalir,” tulis analis Westpac dalam laporan risetnya.
“Mereka juga mencatat bahwa AS menghentikan sementara serangan terhadap Iran selama akhir pekan meski ketegangan di kawasan masih terus meningkat.”
Di pasar mata uang lainnya, dolar Selandia Baru menguat 0,3 persen menjadi USD0,5802, sedangkan dolar Australia naik 0,2 persen menjadi USD0,6997.
Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama, turun 0,25 persen menjadi 101,23. Pelemahan ini terjadi pada pekan yang juga akan dipenuhi agenda rapat bank sentral, termasuk pertemuan Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneternya pekan ini, meskipun secara keseluruhan peluangnya tidak banyak berubah dibandingkan Jumat lalu.
Kontrak berjangka Fed Funds menunjukkan probabilitas tersirat sebesar 36,3 persen, bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan dua hari yang berakhir Rabu, berdasarkan data alat FedWatch CME Group.
(NIA DEVIYANA)