MARKET NEWS

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,6 Persen di Kuartal I-2026, Investor Terus Cermati Rupiah

TIM RISET IDX CHANNEL 09/05/2026 07:00 WIB

Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026, menjadi level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,6 Persen di Kuartal I-2026, Investor Terus Cermati Rupiah. (Foto: Magnafic)

IDXChannel – Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026, menjadi level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Namun, kinerja ekonomi yang solid tersebut dinilai belum mampu menarik kembali minat investor asing ke pasar saham domestik.

Ekonomi CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Wisnu Trihatmojo dalam riset yang terbit pada 5 Mei 2026 menyebut produk domestik bruto (PDB) riil Indonesia tumbuh 5,6 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2026.

Angka itu melampaui ekspektasi pasar sekaligus membuka peluang revisi naik terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 yang saat ini berada di level 5,1 persen.

Menurut Wisnu, pertumbuhan ekonomi pada awal tahun didorong kuatnya permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah sama-sama tumbuh solid sehingga ikut mengerek impor dan menekan kontribusi ekspor neto.

“Secara keseluruhan, kami melihat faktor musiman dan berbagai inisiatif pemerintah mendukung pertumbuhan PDB kuartal I-2026 yang kuat, meski kemungkinan besar bersifat frontloaded,” tulis Wisnu.

Dari sisi sektoral, pertumbuhan terutama ditopang sektor akomodasi dan makanan-minuman, konstruksi, serta perdagangan besar. Sementara itu, output manufaktur mulai melambat akibat lemahnya industri berbasis pertambangan.

Meski demikian, CGSI memperingatkan sejumlah risiko yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi ke depan, terutama kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan keterbatasan fiskal pemerintah.

Wisnu menilai konflik berkepanjangan di Selat Hormuz meningkatkan peluang kenaikan harga Pertamax atau RON 92. Bahkan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia disebut telah memberi sinyal terkait kemungkinan penyesuaian harga tersebut.

“Pertamax merupakan komponen inflasi (CPI) yang cukup sensitif karena memiliki porsi sekitar 8 persen dari total konsumsi bahan bakar transportasi,” ujar dia.

Meski pemerintah berkomitmen tidak menaikkan harga Pertalite dan biosolar, kenaikan harga Pertamax tetap dinilai dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga.

Di sisi lain, CGSI menilai pertumbuhan belanja pemerintah sebesar 21,8 persen yoy pada kuartal I-2026 sulit dipertahankan. Lonjakan itu sebagian dipengaruhi basis rendah (low bases) tahun lalu dan implementasi awal program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Wisnu, upaya efisiensi anggaran yang mulai berjalan pada kuartal II-2026 juga berpotensi mempersempit ruang stimulus fiskal, padahal belanja pemerintah selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi.

CGSI mencatat Indonesia sebagai negara net importir minyak dengan nilai sekitar 2 persen terhadap PDB.

Setiap kenaikan harga minyak 10 persen diperkirakan dapat memangkas pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1 poin persentase per tahun melalui pelemahan ekspor neto.

Meski demikian, kebijakan pemerintah yang berorientasi menjaga pertumbuhan dinilai mampu meredam dampak lonjakan harga minyak terhadap konsumsi domestik.

Kontrol harga BBM dan pembebasan bea impor tertentu membantu menjaga inflasi agar tidak menggerus daya beli masyarakat.

Namun, langkah tersebut dinilai memiliki konsekuensi terhadap stabilitas makroekonomi, termasuk tekanan pada nilai tukar rupiah dan posisi fiskal pemerintah. CGSI mencatat rupiah berada di kisaran Rp17.425 per USD saat riset tersebut ditulis.

Dari sisi pasar modal, Wisnu mengatakan percepatan pertumbuhan ekonomi sejauh ini belum berhasil mendorong arus masuk dana asing ke pasar saham Indonesia.

Sepanjang tahun berjalan, investor asing tercatat masih membukukan jual bersih sekitar USD2,8 miliar atau setara dengan Rp48,79 triliun di seluruh pasar saham domestik.

Padahal, pertumbuhan nominal PDB Indonesia sebesar 9,2 persen yoy pada kuartal I-2026 dinilai sejalan dengan pertumbuhan pendapatan korporasi dan percepatan laba bersih inti emiten.

“Investor asing kemungkinan akan lebih menghargai keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas, yakni ketika depresiasi rupiah tidak menggerus capital gain,” tulis Wisnu.

Karena itu, CGSI menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) masih mungkin diperlukan untuk menahan pelemahan rupiah. Selain itu, pemerintah juga dinilai perlu menjaga kesehatan anggaran negara, termasuk melalui rasionalisasi belanja program MBG. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE