El Niño Jadi Ancaman Pasokan Nikel Indonesia, Produksi Morowali Berisiko Terpangkas
Fenomena El Niño berpotensi menjadi ancaman baru bagi pasokan nikel Indonesia. Keterbatasan air di kawasan Morowali berisiko mengganggu operasional smelter.
IDXChannel - Fenomena El Niño berpotensi menjadi ancaman baru bagi pasokan nikel Indonesia. Keterbatasan air di kawasan Morowali berisiko mengganggu operasional smelter di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan memangkas produksi hingga 30-40 persen.
Gangguan tersebut menjadi perhatian karena IMIP merupakan salah satu pusat utama hilirisasi nikel Indonesia.
Jika gangguan berlangsung berkepanjangan, pasokan produk nikel dari Indonesia ke pasar global berpotensi ikut tertekan.
Head of Media Relations IMIP Dedy Kurniawan mengatakan fenomena El Niño telah memperlambat aktivitas produksi di kawasan tersebut.
“Ditaksir dari keseluruhan operasional industri di IMIP, El Niño melambatkan laju produksi hingga mengakibatkan 30-40 persen penurunan produksi,” ujar Dedy, dikutip dari analisis Sinarmas Sekuritas, Kamis (3/9/2026).
Sinarmas Sekuritas dalam analisisnya menilai gangguan produksi di Morowali dapat menciptakan dampak yang berbeda bagi sektor nikel.
Dari sisi sektoral, Sinarmas Sekuritas menilai gangguan produksi yang berlanjut berpotensi memperketat pasokan nikel global.
Mengingat Indonesia merupakan salah satu pemain utama dalam rantai pasok nikel dunia, gangguan operasional di Morowali berpotensi menjadi katalis positif bagi harga nikel.
Namun, menurut analisis Sinarmas Sekuritas, kenaikan harga nikel tersebut tidak serta-merta menjadi kabar positif bagi seluruh emiten di sektor ini.
Penurunan tingkat utilisasi smelter justru berpotensi menekan volume produksi dan kinerja keuangan perusahaan yang memiliki eksposur operasional di kawasan Morowali.
Sinarmas Sekuritas menyoroti PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) sebagai salah satu emiten yang relevan dipantau karena memiliki fasilitas smelter di kawasan IMIP.
Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga perlu menjadi perhatian seiring pengembangan proyeknya di Bahodopi, Morowali.
Dengan demikian, Sinarmas Sekuritas melihat El Niño berpotensi menciptakan dua dampak yang berlawanan bagi industri nikel.
Gangguan produksi dapat menjadi sentimen positif bagi harga melalui potensi pengetatan pasokan global, tetapi sekaligus menjadi risiko negatif bagi produsen yang operasionalnya terdampak.
“Fokus utama saat ini adalah durasi gangguan air dan tingkat utilisasi smelter Morowali,” tulis Sinarmas Sekuritas dalam sebuah catatan.
Sementara, harga nikel diperdagangkan di kisaran USD16.680 per ton dan menyentuh level terendah sejak awal Juli, seiring melimpahnya pasokan dalam jangka pendek yang menekan harga.
Sementara itu, mengutip Trading Economics, kuota produksi tambang Indonesia pada 2026 dilaporkan turun menjadi sekitar 260-270 juta ton, dari 379 juta ton pada 2025.
Para produsen juga mempertimbangkan pemangkasan produksi high-pressure acid leaching (HPAL) sekitar 30 persen, yang jika direalisasikan berpotensi membatasi pelemahan harga lebih lanjut. (Aldo Fernando)