Elnusa (ELSA) Geser Alokasi Capex 2026 ke Bisnis Distribusi Energi, Ini Alasannya
Perseroan menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp602 miliar sepanjang 2026.
IDXChannel - PT Elnusa Tbk (ELSA) menggeser porsi investasi jangka panjangnya ke bisnis distribusi dan logistik energi seiring meningkatnya kebutuhan pasar terhadap layanan angkutan BBM. Perseroan menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp602 miliar sepanjang 2026.
Direktur Keuangan Elnusa Nelwin Aldriansyah mengatakan dalam dua hingga tiga tahun terakhir, kontribusi bisnis downstream, khususnya distribusi dan logistik energi semakin besar.
"Dalam 2-3 tahun terakhir memang kebetulan kontribusi dari downstream ataupun distribusi logistik ini lebih besar karena memang adanya kebutuhan pasar yang membutuhkan distribusi angkutan BBM secara lebih besar," kata Nelwin dalam Public Expose Live 2026, Senin (7/9/2026).
Peralihan fokus capex tersebut bukan tanpa alasan, bisnis distribusi dan logistik energi tercatat punya kontribusi paling besar dalam struktur pendapatan perseroan. Selain itu, perolehan kontrak baru sepanjang semester I-2026 juga didominasi oleh lini bisnis tersebut.
Nelwin memaparkan sepanjang semester I-2026, perseroan membukukan kontrak baru Rp11,6 triliun. Kontribusi terbesarnya yaitu dari segmen energy distribution and logistic sebesar Rp9 triliun, diikuti bisnis integrated upstream oil and gas services senilai Rp1,6 triliun, dan segmen oil and gas support senilai Rp1 triliun.
Adapun perolehan revenue tercatat sebesar Rp7,58 triliun pada semester I-2026, dengan 65 persen dikontribusikan dari bisnis energy distribution and logistic, integrated upstream 27 persen, dan support services sebesar 8 persen.
"Investasi tersebut difokuskan pada penguatan kapasitas operasional dan peningkatan daya saing bisnis," kata Nelwin.
Capex segmen distribusi dan logistik dialokasikan perseroan untuk pengadaan kendaraan tangki BBM dan pengembangan fasilitas Terminal LPG Kolaka. Investasi di segmen bisnis ini memakan 50 persen dari total capex tahunan perseroan Rp602 miliar.
Sementara itu, investasi pada segmen integrated upstream tetap berjalan, antara lain untuk STPS Navigation, Passive Seismic Geobits C100, coiled tubing unit, dan cementing unit. Segmen ini mendapatkan alokasi capex 28 persen. Sementara capex sisanya dialokasikan untuk support dan bisnis baru.
Hingga Juni 2026, realisasi capex Elnusa telah mencapai sekitar 35 persen dari target tahunan. Nelwin menegaskan, seluruh investasi tetap dilakukan secara selektif dengan menerapkan prinsip kehati-hatian untuk mendorong pertumbuhan pendapatan perseroan di kemudian hari.
"Investasi tersebut difokuskan pada penguatan kapasitas operasional dan peningkatan daya saing bisnis," ujarnya.
Meski bisnis distribusi dan logistik saat ini memberikan kontribusi lebih besar, Elnusa tidak ingin ketergantungan pada satu segmen. Perseroan justru menargetkan komposisi portofolio bisnis yang lebih seimbang antara upstream services dan energy distribution and logistics.
Nelwin mengatakan, peluang di bisnis jasa hulu migas masih terbuka lebar. Hal tersebut didorong oleh peningkatan aktivitas eksplorasi dan pengembangan lapangan oleh Pertamina maupun kontraktor kontrak kerja sama.
"Kami memproyeksikan komposisi portofolio Elnusa ke depannya akan bergerak menuju proporsi yang lebih seimbang antara segmen upstream services maupun downstream di bidang energy distribution and logistics," tuturnya.
Secara keseluruhan, Elnusa membukukan pendapatan Rp7,58 triliun pada semester I-2026, tumbuh 8,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan tersebut menghasilkan EBITDA Rp862 miliar, naik 16,2 persen secara tahunan. Adapun laba bersih mencapai Rp435 miliar, melonjak 29,2 persen dibandingkan semester I-2025.
Elnusa juga mencatatkan arus kas operasi sebesar Rp761 miliar dengan saldo kas Rp2,88 triliun per Juni 2026.
Dengan tetap memperkuat distribusi dan logistik sekaligus mempertahankan investasi di hulu migas, Elnusa berharap struktur portofolio bisnis perseroan ke depan menjadi lebih seimbang dan mampu menopang pertumbuhan jangka panjang.
(NIA DEVIYANA)