Gejolak Pasar Berlanjut, IHSG Turun Lebih dari 1 Persen
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada Jumat (6/3/2026) pagi, membalik technical rebound yang sempat terjadi sehari sebelumnya.
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam pada Jumat (6/3/2026) pagi, membalik technical rebound yang sempat terjadi sehari sebelumnya. Pelemahan ini sekaligus meneguhkan tren penurunan indeks dalam beberapa waktu terakhir.
Tekanan terhadap pasar saham domestik muncul di tengah kombinasi sejumlah sentimen negatif, mulai dari memanasnya konflik di Timur Tengah hingga sorotan terhadap outlook kredit Indonesia serta persoalan struktural dan transparansi di pasar modal.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.52 WIB, IHSG merosot 1,66 persen ke level 7.582,61. Pelemahan ini terjadi seiring tekanan pada saham-saham big cap, khususnya dari kelompok konglomerat dan perbankan besar.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp4,96 triliun dengan volume perdagangan 9,88 miliar saham.
Secara keseluruhan, 536 saham melemah, 131 saham menguat, dan 291 saham lainnya stagnan.
Sepanjang pekan ini, IHSG praktis hanya mencatatkan penguatan satu kali, yakni pada Kamis (5/3) sebesar 1,76 persen, sementara pada hari-hari lainnya indeks bergerak turun cukup tajam.
Akibatnya, dalam sepekan indeks acuan tersebut telah terkoreksi 7,93 persen. Pada periode yang sama, investor asing juga tercatat melakukan jual bersih (net sell) Rp2,97 triliun di pasar reguler.
BRI Danareksa Sekuritas menulis, pemerintah China meminta sejumlah kilang domestik untuk menghentikan kontrak baru ekspor solar dan bensin, serta meninjau kembali pengiriman yang telah direncanakan.
Mengutip riset BRI Danareksa pada Jumat (6/3), langkah tersebut ditempuh untuk mengamankan pasokan energi domestik di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, United States, dan Israel.
Kebijakan itu berpotensi menimbulkan sejumlah dampak bagi pasar energi global. Pertama, risiko gangguan pasokan energi dunia meningkat seiring berkurangnya potensi ekspor bahan bakar dari China.
Kedua, harga minyak berpeluang bertahan tinggi apabila konflik geopolitik terus berlanjut dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan.
Selain itu, pengurangan ekspor dari China juga berpotensi membuat pasokan bahan bakar di kawasan Asia semakin ketat, yang dapat memicu kenaikan harga energi di pasar regional.
BRI Danareksa menilai kondisi tersebut cenderung mendorong sentimen risk-off di pasar global. Dalam situasi seperti ini, investor biasanya lebih berhati-hati dengan mengalihkan dana ke aset safe haven dan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seperti saham.
Sebelumnya, BRI Danareksa menilai kenaikan IHSG pada Kamis (6/3) masih bersifat terbatas dan cenderung merupakan rebound teknikal jangka pendek (dead cat bounce) di tengah tren koreksi yang masih berlangsung.
Dalam risetnya pada Kamis (5/3), analis BRI Danareksa menilai pasar kini akan mencermati dua level teknikal penting. Area support berada di 7.500, yang dinilai berpotensi menjadi penahan penurunan berikutnya.
Sementara itu, resistance berada pada kisaran 7.825 hingga 7.955, yang perlu ditembus agar sentimen pasar dapat membaik.
Selama IHSG belum mampu kembali menembus area 7.955, pergerakan indeks diperkirakan masih bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.