Gencatan Senjata AS-Iran Tekan Harga Minyak, CPO Ambles 3 Persen
Harga minyak sawit mentah (CPO) anjlok lebih dari 3 persen pada Rabu (8/4/2026).
IDXChannel – Harga minyak sawit mentah (CPO) anjlok lebih dari 3 persen pada Rabu (8/4/2026) setelah harga minyak mentah merosot menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sementara pelemahan minyak nabati pesaing turut menekan pasar.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatives Exchange jatuh 3,32 persen menjadi 4.607 ringgit Malaysia per ton pada 15.13 WIB, memperpanjang pelemahan menjadi tiga hari berturut-turut.
Harga minyak mentah turun di bawah USD100 per barel setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan telah menyepakati gencatan senjata dua pekan dengan Iran, dengan syarat pembukaan kembali Selat Hormuz secara aman dan segera.
Pelemahan harga minyak mentah membuat minyak sawit kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 2,77 persen, sementara kontrak minyak sawitnya merosot 3,76 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) juga turun 3,53 persen.
Minyak sawit biasanya mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing dalam memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Ringgit, mata uang perdagangan minyak sawit, menguat 0,94 persen terhadap dolar AS sehingga membuat komoditas ini lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang asing.
Data Komisi Eropa menunjukkan impor kedelai Uni Eropa untuk musim 2025/2026 yang dimulai pada Juli telah mencapai 9,74 juta ton hingga 5 April, turun 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, impor minyak sawit turun 4 persen menjadi 2,19 juta ton.
Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia mengatakan pemerintah berencana memperluas program biodiesel B20 berbasis minyak sawit secara nasional secara bertahap, dengan mempertimbangkan sensitivitas harga minyak sawit terhadap harga minyak bumi. (Aldo Fernando)