GPSO Buka Suara Soal Suntikan Aset Rp700 Miliar dari Tjokro Group
PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) mengumumkan langkah strategis besar usai diakuisisi oleh Tjokro Group.
IDXChannel - PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) mengumumkan langkah strategis besar usai diakuisisi oleh Tjokro Group. Langkah awal ini ditandai dengan penandatanganan Kesepakatan Induk pada Selasa (20/1/2026) dengan PT Morita Tjokro Gearindo (MTG), PT Tjokro Bersaudara Cikarangindo (TBC), dan PT Jaya Indah Casting (JIC) yang merupakan bagian dari Tjokro Group.
Manajemen GPSO menyatakan, melalui kesepakatan ini, GPSO berencana melakukan akuisisi terhadap tiga entitas bisnis dan aset strategis dengan estimasi nilai transaksi mencapai kurang lebih Rp700 miliar. Rencana ini mencakup akuisisi saham PT Pulogadung Tempajaya (PTJ), PT Tjokro Bersaudara Komponenindo (TBK), dan PT Jakarta Marten Logamindo (JML).
Rinciannya, Rp385 miliar untuk mengakuisisi 75 persen saham PJT, Rp90 miliar untuk membeli 70 persen Tbk, dan Rp65 miliar untuk mengambil alih 70 persen saham JML. Selain itu, perseroan juga akan mengakuisisi aset Jababeka senilai Rp65 miliar dan aset EJIP senilai Rp95 miliar. Dengan demikian, totalnya sekitar Rp700 miliar.
Manajemen GPSO menyatakan aksi korporasi ini akan memberikan dampak positif yang konkret terhadap kinerja keuangan perusahaan, termasuk peningkatan laba dan potensi pembagian dividen yang lebih besar bagi pemegang saham di masa mendatang.
"Konsolidasi ini akan menjadikan perseroan salah satu pemain utama yang memiliki rantai pasok solid untuk menciptakan efisiensi, stabilitas, serta menjaga pertumbuhan berkelanjutan," katanya dalam keterbukaan informasi dikutip Senin (2/2/2026).
Manajemen GPSO mengatakan, akuisisi ini akan memberikan sejumlah manfaat. Pertama, keunggulan operasional di mana entitas yang diakuisisi (PTJ, TBK, dan JML) memiliki rekam jejak yang matang di industri fabrikasi komponen, lengkap dengan pelanggan tetap, teknologi, dan sistem yang sudah berjalan mapan.
Kedua, pendapatan tetap di mana selain akuisisi saham, GPSO berencana menguasai hak pengelolaan aset tanah dan bangunan pabrik di kawasan Jababeka dan EJIP. Hal ini diproyeksikan memberikan pendapatan sewa tetap dengan rental rate antara 5-10 persen.
Ketiga, integrasi hulu-hilir yang mana Tjokro Group yang saat ini merupakan pelaku parts maker terbesar di Indonesia yang melayani kebutuhan komponen berbagai industri, akan mentransformasikan GPSO menjadi perusahan induk dengan pendapatan triliunan rupiah yang mengelola bisnis terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari proses forging hingga heat treatment.
Untuk mendanai transaksi ini, GPSO tengah mengkaji berbagai alternatif pendanaan yang optimal, termasuk melalui mekanisme share swap inbreng saham dengan skema Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau instrumen utang lainnya.
"Perseroan berkomitmen untuk senantiasa tunduk pada regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk dalam proses penilaian kewajaran transaksi oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang independen. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan eksposur GPSO di mata publik dan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi seluruh pemangku kepentingan," kata manajemen GPSO.
(Rahmat Fiansyah)