Harga CPO Lesu, Pasar Tunggu Sentimen Baru
Harga minyak sawit mentah (CPO) terkoreksi pada perdagangan Rabu (15/7/2026), menghentikan kenaikan selama dua sesi beruntun.
IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) terkoreksi pada perdagangan Rabu (15/7/2026), menghentikan kenaikan selama dua sesi beruntun di tengah minimnya sentimen baru yang menggerakkan pasar.
Kontrak CPO acuan untuk pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives 0,24 persen menjadi 4.562 ringgit Malaysia per ton pada 14.24 WIB.
Direktur perusahaan pialang Pelindung Bestari yang berbasis di Selangor, Paramalingam Supramaniam, mengatakan pergerakan harga masih terbatas karena belum ada pengumuman maupun perubahan sentimen yang signifikan.
"Kontrak berjangka bergerak dalam kisaran sempit karena tidak adanya pengumuman besar ataupun perubahan sentimen pasar," ujarnya, dikutip Reuters.
Menurut Paramalingam, meski sebagian pelaku pasar mulai memperhitungkan potensi dampak fenomena El Niño, permintaan masih relatif lemah. Di sisi lain, perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah juga masih menimbulkan ketidakpastian.
Di pasar minyak nabati lainnya, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,09 persen, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama menguat 0,42 persen.
Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) bertambah 0,38 persen.
Pergerakan harga minyak sawit umumnya mengikuti minyak nabati pesaing karena saling bersaing di pasar minyak nabati global.
Dari Indonesia, pemerintah mengumumkan akan memberikan subsidi bahan bakar diesel bagi kapal perikanan berukuran menengah menggunakan dana yang dihimpun dari pungutan ekspor minyak sawit dan kakao.
Di sisi lain, data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan ekspor minyak sawit Indonesia, termasuk produk olahannya, mencapai 1,996 juta ton pada Mei 2026, turun 25,1 persen dibandingkan 2,664 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, impor minyak sawit India pada Juni turun ke level terendah dalam 14 bulan. Penurunan tersebut dipicu melemahnya permintaan serta menyempitnya selisih harga minyak sawit dengan minyak nabati pesaing, sehingga pembeli mengurangi pembelian.
Nilai tukar ringgit Malaysia, mata uang perdagangan minyak sawit, menguat 0,2 persen terhadap dolar AS. Penguatan ini membuat harga minyak sawit menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Di pasar energi, harga minyak mentah melanjutkan kenaikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap seluruh pelabuhan Iran.
Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan terhadap infrastruktur AS di kawasan tersebut.
Kenaikan harga minyak mentah membuat minyak sawit semakin menarik sebagai bahan baku produksi biodiesel. (Aldo Fernando)