Harga CPO Menguat, Didukung Minyak Pesaing dan Pelemahan Ringgit
Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat pada perdagangan Rabu (1/7/2026), membalikkan pelemahan di awal sesi.
IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat pada perdagangan Rabu (1/7/2026), membalikkan pelemahan di awal sesi.
Kenaikan tersebut didorong oleh penguatan harga minyak kedelai di Chicago serta pelemahan mata uang ringgit.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 0,13 persen menjadi 4.552 ringgit per ton hingga 15.00 WIB.
Seorang trader berbasis di Kuala Lumpur mengatakan pasar mendapat dukungan dari pemulihan harga minyak kedelai di sesi pagi Asia serta pelemahan tipis ringgit.
"Pasar didukung oleh rebound minyak kedelai dan ringgit yang sedikit melemah," ujar trader tersebut, dikutip Reuters.
Ringgit, mata uang transaksi utama untuk perdagangan CPO, melemah 0,2 persen terhadap dolar AS. Kondisi ini membuat harga minyak sawit lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade menguat 0,29 persen. Sementara itu, kontrak soyoil paling aktif di Dalian turun 0,3 persen dan kontrak minyak sawit Dalian melemah 0,45 persen.
Pergerakan harga minyak sawit kerap mengikuti minyak nabati pesaingnya karena komoditas ini bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar global minyak nabati.
Di sisi lain, harga minyak mentah menguat seiring kekhawatiran bahwa kegagalan pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) untuk mencapai kesepakatan akhir guna mengakhiri perang dapat memperpanjang gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah, salah satu wilayah utama penghasil minyak dunia.
Kenaikan harga minyak mentah berjangka membuat minyak sawit menjadi pilihan yang lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Sementara itu, Indonesia menetapkan harga referensi CPO untuk Juli sebesar USD1.000,90 per ton berdasarkan aturan Kementerian Perdagangan.
Indonesia juga mulai menerapkan mandat biodiesel B50 pada Rabu, yaitu campuran 50 persen diesel berbasis minyak sawit dan 50 persen diesel konvensional, sebagai bagian dari upaya mencapai kemandirian energi.
Namun, analis memperingatkan penurunan harga minyak mentah serta biaya minyak sawit yang lebih tinggi dapat mengancam keberlanjutan program tersebut. (Aldo Fernando)