Harga CPO Naik 2 Hari di Tengah Penguatan Minyak Dalian dan Chicago
Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat lagi pada Kamis (12/3/2026).
IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat lagi pada Kamis (12/3/2026).
Kenaikan tersebut seiring penguatan harga minyak nabati saingan, melonjaknya harga minyak mentah, dan ekspektasi permintaan biodiesel yang lebih tinggi setelah Indonesia mempercepat uji coba jalan untuk campuran B50.
Kontrak acuan CPO untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives naik 1,22 persen, menjadi 4.554 ringgit Malaysia per ton metrik pada jeda 15.03 WIB, setelah sempat menyentuh level tertinggi intraday 4.628 ringgit.
"Futures saat ini banyak dipengaruhi oleh situasi minyak mentah; jika ada kenaikan besar di Dalian, Chicago, atau minyak mentah, pasar pasti bereaksi," kata seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur, seperti dikutip Reuters.
"Berita bahwa Indonesia mendorong implementasi B50 juga memberi dukungan pada pasar," imbuh dia.
Kontrak minyak kedelai aktif Dalian naik 2,21 persen, sementara kontrak minyak sawitnya CPO1! melonjak 3,55 persen. Di Chicago Board of Trade (CBOT), minyak kedelai ZL1! bertambah 1,18 persen.
Harga minyak sawit mengikuti pergerakan harga minyak nabati saingan karena bersaing merebut pangsa pasar minyak nabati global.
Harga minyak mentah juga melonjak setelah Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di Timur Tengah, memicu kekhawatiran konflik berkepanjangan dan gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz.
Kenaikan futures minyak mentah membuat sawit menjadi opsi yang lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Indonesia mempercepat uji coba jalan untuk biodiesel B50 yang dibuat dari 50 persen minyak sawit dan 50 persen minyak konvensional, jika menghadapi kesulitan pasokan minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah, kata wakil menteri energi Indonesia pada Rabu.
Ringgit Malaysia, mata uang kontrak perdagangan, melemah 0,38 persen terhadap dolar AS, membuat minyak sawit lebih murah bagi pemegang mata uang asing.
Menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Rabu, pesanan ekspor minyak sawit untuk pengiriman baru mulai melambat setelah perang AS-Israel terhadap Iran mendorong biaya logistik dan asuransi. (Aldo Fernando)