MARKET NEWS

Harga CPO Naik 2 Hari, Ditopang Minyak Saingan dan Melemahnya Ringgit

TIM RISET IDX CHANNEL 06/03/2026 15:30 WIB

Harga minyak sawit mentah (CPO) naik dua hari berturut-turut pada Jumat (6/3/2026) dan diperkirakan mencatat kenaikan mingguan.

Harga CPO Naik 2 Hari, Ditopang Minyak Saingan dan Melemahnya Ringgit. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) naik dua hari berturut-turut pada Jumat (6/3/2026) dan diperkirakan mencatat kenaikan mingguan, didukung penguatan minyak nabati di Dalian serta pelemahan ringgit.

Kontrak CPO acuan untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange menguat 1,69 persen, menjadi 4.276 ringgit Malaysia per ton pada pukul 15.01 WIB.

CPO tersebut telah naik 5,92 persen sepanjang pekan ini, menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak pekan yang berakhir pada 11 Agustus 2025.

Analis sekuritas PhillipCapital dalam catatannya, dikutip Dow Jones Newswires, menyebutkan bahwa harga CPO menguat dalam perdagangan Asia, didukung kenaikan harga minyak mentah serta kekhawatiran terhadap pasokan di Timur Tengah.

Eskalasi serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran terus mengganggu pasokan minyak dan mendorong harga lebih tinggi.

Harga energi yang lebih kuat juga dapat menopang minyak sawit mentah karena pasar minyak yang menguat meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai alternatif bahan bakar nabati.

Di pasar lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,69 persen, sementara kontrak minyak sawitnya melonjak 1,8 persen. Sebaliknya, minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) turun 0,99 persen.

Harga minyak sawit umumnya mengikuti pergerakan minyak nabati pesaing karena saling bersaing dalam memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.

Sementara itu, mengutip Reuters, ringgit Malaysia, mata uang perdagangan kontrak tersebut, melemah 0,18 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat minyak sawit lebih murah bagi pemegang mata uang asing.

Meski demikian, pelemahan ekspor membatasi kenaikan harga. Lembaga survei kargo mencatat pengiriman Februari turun sekitar 21,5 persen hingga 22,5 persen dibanding Januari, meskipun ada pembelian menjelang Idulfitri.

Pelaku pasar juga cenderung berhati-hati menjelang rilis sejumlah data penting dari China pekan depan, termasuk inflasi konsumen (CPI), inflasi produsen (PPI), serta data perdagangan dari negara pembeli utama tersebut. (Aldo Fernando)

SHARE