Harga CPO Naik 3 Hari, Ditopang Risiko El Nino dan Minyak Kedelai
Harga minyak sawit mentah (CPO) melanjutkan penguatan untuk hari ketiga berturut-turut pada Selasa (8/9/2026).
IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) melanjutkan penguatan untuk hari ketiga berturut-turut pada Selasa (8/9/2026). Kenaikan ini ditopang oleh kekhawatiran terhadap risiko cuaca yang dapat mengganggu produksi, serta penguatan harga minyak kedelai.
Kontrak CPO paling aktif untuk pengiriman November di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 0,74 persen menjadi 5.015 ringgit Malaysia per ton pada pukul 14.58 WIB.
"Pasar bergerak menguat karena kekhawatiran cuaca akibat El Nino yang terus berlanjut, ditambah penguatan harga minyak kedelai," ujar trader proprietary di perusahaan perdagangan berbasis di Kuala Lumpur, Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, dikutip Reuters.
Menurut dia, level support harga CPO berada di 4.900 ringgit, sementara resistance berada di 5.080 ringgit.
Di bursa Dalian, kontrak minyak kedelai yang paling aktif naik 0,46 persen, sedangkan kontrak minyak sawit menguat 1,6 persen.
Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade meningkat 0,88 persen.
Harga CPO turut mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaingnya karena komoditas tersebut bersaing untuk mendapatkan pangsa di pasar minyak nabati global.
Di sisi lain, harga minyak mentah melanjutkan penguatan seiring meningkatnya risiko konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Iran mengancam akan membalas setiap serangan baru Amerika Serikat (AS) terhadap aset-asetnya, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan.
Kenaikan harga minyak mentah berjangka membuat CPO menjadi bahan baku biodiesel yang lebih menarik.
Dari sisi mata uang, ringgit yang menjadi mata uang perdagangan CPO melemah 0,19 persen terhadap dolar AS.
Pelemahan ringgit membuat komoditas tersebut sedikit lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Sementara itu, pembelian minyak nabati secara agresif oleh India telah menyebabkan kemacetan di sejumlah pelabuhan utama negara tersebut.
Kondisi ini membuat proses bongkar muat kapal tertunda hingga 10 hari karena tangki penyimpanan di darat mulai penuh dan perusahaan pengolah kesulitan menyerap pasokan yang masuk, menurut sejumlah pejabat industri kepada Reuters. (Aldo Fernando)