MARKET NEWS

Harga CPO Turun 2 Hari Beruntun, Tertekan Minyak Global dan Permintaan April

TIM RISET IDX CHANNEL 18/03/2026 15:14 WIB

Harga minyak sawit mentah (CPO) melanjutkan penurunan untuk hari kedua berturut-turut pada Rabu (18/3/2026).

Harga CPO Turun 2 Hari Beruntun, Tertekan Minyak Global dan Permintaan April. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) melanjutkan penurunan untuk hari kedua berturut-turut pada Rabu (18/3/2026), melemah lebih dari 1 persen, tertekan oleh pelemahan minyak nabati pesaing dan harga minyak mentah, serta kekhawatiran terhadap permintaan ekspor April.

Kontrak acuan FCPO untuk pengiriman Juni di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 71 ringgit, atau 1,55 persen, menjadi 4.510 ringgit Malaysia per ton metrik pada 14.52 WIB.

“Futures CPO terbebani tekanan jual di pasar minyak mentah, minyak kedelai Chicago, dan pasar Dalian, sementara meningkatnya kekhawatiran atas permintaan April turut menekan harga, kata Direktur Pelindung Bestari yang berbasis di Selangor, Paramalingam Supramaniam, seperti dikutip Reuters.

Ia menambahkan, “Biaya pengiriman melonjak tajam, dan hal ini menyebabkan permintaan menurun serta penumpukan stok minyak olahan di tangki penyimpanan.”

Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 0,88 persen, sementara kontrak minyak sawitnya merosot 2,08 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga melemah 1,59 persen.

Minyak sawit mengikuti pergerakan harga minyak nabati pesaing karena bersaing dalam memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.

Harga minyak mentah turun lebih dari USD2 per barel, memangkas sebagian kenaikan tajam pada Selasa, setelah pemerintah Irak dan otoritas Kurdi mencapai kesepakatan untuk melanjutkan ekspor minyak melalui pelabuhan Ceyhan di Turki, yang memberi sedikit kelegaan terhadap kekhawatiran pasokan minyak Timur Tengah.

Pelemahan harga minyak mentah membuat minyak sawit kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Ringgit, mata uang perdagangan minyak sawit, menguat 0,31 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat komoditas ini lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang asing.

“Pasar minyak nabati global bergerak tidak menentu, seiring gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah yang meningkatkan harapan permintaan biodiesel, meski lemahnya pembelian dari importir utama membayangi prospek harga,” kata pelaku industri senior Dorab Mistry. (Aldo Fernando)

SHARE