MARKET NEWS

Harga Emas Dunia Tembus USD5.000, Logam Mulia Antam Berpotensi Capai Rp3,15 Juta per Gram

Anggie Ariesta 15/02/2026 14:46 WIB

Harga emas dunia melambung hingga 5.000 per troy ons. Hal itu meningkatkan peluang Logam Mulia Antam melonjak hingga Rp3.150.000 per gram.

Harga Emas Dunia Tembus USD5.000, Logam Mulia Antam Berpotensi Capai Rp3,15 Juta per Gram. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Pasar emas internasional dan domestik menunjukkan tren fluktuasi yang signifikan pada pertengahan Februari 2026. Bahkan harga emas dunia pada penutupan Sabtu (14/2/2026) pagi terpantau berada di level USD5.042 per troy ons.

Sementara harga emas Logam Mulia Antam di pasar domestik dibanderol seharga Rp2.954.000 per gram.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan, pergerakan harga emas akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat dalam sepekan ke depan.

Seandainya harga emas dunia turun, lanjutnya, kemungkinan support pertama di 4.947 per troy ons dengan harga Logam Mulia di Rp2.920.000.

“Jika turun lebih jauh, support kedua di 4.818 per troy ons dengan harga Logam Mulia Rp2.860.000,” tutur Ibrahim dalam risetnya, Minggu (15/2/2026).

Sebaliknya, jika tren penguatan berlanjut, Ibrahim menetapkan target yang lebih tinggi.

“Kalau harga emas dunia naik, resisten pertama di 5.134 per troy ons dengan harga Logam Mulia di Rp3.000.000 per gram. Jika menembus resisten kedua di 5.245 per troy ons, harga Logam Mulia bisa mencapai Rp3.150.000,” tambahnya.

Menurut Ibrahim, setidaknya ada empat faktor fundamental yang membuat harga emas dunia dan Logam Mulia bergerak sangat dinamis saat ini.

Pertama, ketegangan meningkat setelah Trump mengirimkan kapal induk USS Gerald R. Ford sebagai tambahan kekuatan di samping USS Abraham Lincoln. Langkah ini dinilai sebagai sinyal persiapan serangan terhadap Iran bersama Israel.

Kemudian, pasar masih merespons negatif atau apatis terhadap penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed oleh Donald Trump, yang menciptakan ketidakpastian baru.

Selanjutnya, inflasi inti AS per Januari 2026 tercatat 2,4 persen, lebih rendah dari konsensus ekonom sebesar 2,5 persen. Hal ini memperkuat indikasi bahwa Bank Sentral AS akan kembali menurunkan suku bunga, yang menjadi sentimen positif bagi emas.

Terakhir, China terus menambah cadangan emasnya secara signifikan guna menggantikan dolar AS, meski pasar juga mewaspadai adanya unsur spekulatif dalam lonjakan harga ini.

Ibrahim melihat bahwa tingginya permintaan untuk cadangan devisa, terutama dari China, membuktikan bahwa emas masih menjadi aset pelindung utama. Ia bahkan memberikan proyeksi yang cukup ambisius untuk masa depan.

"Permintaan untuk logam mulia terus mengalami kenaikan, bahkan untuk mencapai akhir tahun mencapai harga USD6.500 (per troy ons) kemungkinan akan terjadi," ujar dia.

(Febrina Ratna Iskana)

SHARE