Harga Emas Rebound Hampir 2 Persen, Investor Cerna Kenaikan Suku Bunga The Fed
Harga emas menguat hampir 2 persen pada Kamis (17/9/2026), bangkit dari level terendah dalam hampir enam pekan pada hari sebelumnya.
IDXChannel – Harga emas menguat hampir 2 persen pada Kamis (17/9/2026), bangkit dari level terendah dalam hampir enam pekan pada hari sebelumnya.
Penguatan emas didukung oleh penurunan harga minyak dan pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), sementara investor mencermati keputusan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Harga emas spot naik 1,83 persen menjadi USD4.341,84 per troy ons.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan, pergerakan emas masih berkaitan erat dengan harga energi, terutama melalui tekanan inflasi.
“Hubungan emas dengan harga energi sangat erat dan cenderung berbanding terbalik karena tekanan inflasi tersebut. Harga energi turun cukup tajam. Jadi, penurunan harga energi ini mengurangi sebagian tekanan terhadap pasar emas,” ujar Meger, seperti dikutip Reuters.
Harga minyak melanjutkan penurunan untuk hari kedua berturut-turut ke level terendah dalam sepekan, seiring meredanya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan.
Pada saat yang sama, dolar AS melemah dari level tertinggi dalam tujuh pekan. Kondisi tersebut membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga turun. Imbal hasil yang tinggi pada aset bebas risiko seperti Treasury AS cenderung mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
The Fed menaikkan suku bunga pada Rabu (16/9) dan mengisyaratkan masih adanya kenaikan dalam beberapa bulan mendatang.
Ketua The Fed Kevin Warsh bergabung dalam keputusan yang diambil secara bulat tersebut, yang secara efektif mengakui bahwa pemerintahan Donald Trump sejauh ini belum berhasil mengendalikan inflasi yang dikhawatirkan pembuat kebijakan dapat kembali meningkat.
Pelaku pasar kini melihat peluang sebesar 51 persen untuk kenaikan suku bunga AS berikutnya pada pertemuan bank sentral Oktober, naik dari sekitar 44 persen sehari sebelumnya, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Meskipun emas kerap dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, lingkungan suku bunga tinggi dapat mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena meningkatkan minat terhadap aset berbunga.
UBS menilai emas masih berpotensi mendapat dukungan dalam jangka lebih panjang.
“Defisit fiskal yang meningkat, beban utang yang lebih tinggi, pelemahan dolar AS pada akhirnya, serta ekspektasi kami bahwa The Fed akan kembali melonggarkan kebijakan tahun depan seharusnya mendukung emas meskipun dalam jangka pendek masih terjadi volatilitas,” tulis UBS dalam catatannya.
Sementara itu, Bank of England (BOE) mempertahankan suku bunga pada Kamis.
Bank of Japan (BOJ) diperkirakan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun pada Jumat (18/9/2026), sekaligus memberikan sinyal mengenai kesiapan untuk terus menaikkan biaya pinjaman. (Aldo Fernando)