Harga Emas Sentuh Level Tertinggi 2 Pekan, Dolar AS dan Yield Obligasi Melemah
Harga emas dunia menguat ke level tertinggi dalam lebih dari dua pekan pada Kamis (6/11/2026), seiring pelemahan dolar AS
IDXChannel – Harga emas dunia menguat ke level tertinggi dalam lebih dari dua pekan pada Kamis (5/11/2026), seiring pelemahan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury).
Penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran inflasi, sementara investor menanti data ketenagakerjaan AS untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Harga emas spot naik 0,69 persen menjadi USD4.088,27 per troy ons, setelah sempat menyentuh USD4.146,63 per troy ons. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 20 Oktober.
Pada perdagangan Rabu (4/11), harga emas melonjak hampir 3,4 persen, mencatatkan kenaikan harian terbesar sejak 19 Agustus.
Sepanjang pekan ini, harga emas telah menguat lebih dari USD250 setelah sempat menyentuh level terendah dalam setahun di USD3.869,85 pada Jumat pekan lalu.
Dolar AS bertahan di dekat level terendah sejak 30 September. Pelemahan tersebut membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya.
Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di dekat level terendah dalam hampir dua bulan.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan, seperti dikutip Reuters, ekspektasi kenaikan suku bunga belum sepenuhnya menghilang.
Namun, penurunan harga energi mulai meredakan kekhawatiran inflasi sehingga membuka peluang berkurangnya kebutuhan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga ke depan.
Harga minyak mentah Brent masih bertahan di bawah USD100 per barel setelah anjlok hampir 9 persen pada sesi sebelumnya.
Penurunan ini dipicu harapan bahwa perolehan suara Partai Demokrat yang kuat dalam pemilu AS dapat mengurangi risiko eskalasi lebih lanjut dalam perang Iran.
Meski demikian, pelaku pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan tersebut saat ini mencapai 66 persen.
Kenaikan suku bunga umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti logam mulia.
Investor kini menantikan laporan nonfarm payrolls (NFP) AS yang dijadwalkan rilis pada Jumat (7/11).
Data tersebut akan menjadi salah satu petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Trader logam independen Tai Wong menilai, harga emas masih rentan terkoreksi apabila data ketenagakerjaan AS menunjukkan hasil lebih kuat dari perkiraan.
Kondisi tersebut berpotensi memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Desember.
Menurut dia, data payrolls belakangan ini cenderung berfluktuasi sehingga hasil yang lebih kuat dari perkiraan dapat kembali menekan harga emas. (Aldo Fernando)