Harga Emas Turun meski Inflasi AS Lebih Rendah dari Perkiraan
Harga emas dunia turun pada perdagangan Rabu (30/9/2026), tertekan kenaikan harga energi yang mengimbangi dukungan dari data inflasi Amerika Serikat (AS).
IDXChannel – Harga emas dunia turun pada perdagangan Rabu (30/9/2026), tertekan kenaikan harga energi yang mengimbangi dukungan dari data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan dan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Harga emas spot turun 0,59 persen menjadi USD4.157,13 per troy ons. Harga emas sempat menguat setelah data inflasi AS menunjukkan kenaikan yang lebih rendah dari perkiraan.
Sepanjang September, harga emas telah turun 6,57 persen.
“Dengan harga energi yang bergerak naik, harga obligasi kehilangan penguatannya dan kembali menekan logam mulia. Ini menjadi hari yang mengecewakan bagi emas meskipun peluang kenaikan suku bunga pada Oktober turun cukup signifikan setelah data PCE inti lebih rendah dari perkiraan,” ujar pedagang logam independen Tai Wong, seperti dikutip Reuters.
Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,3 persen pada Agustus setelah mencatat kenaikan 0,1 persen pada Juli yang telah direvisi turun, menurut data Biro Analisis Ekonomi AS pada Rabu.
Sementara itu, indeks PCE inti meningkat 3,0 persen secara tahunan pada Agustus, sama dengan kenaikan 3,0 persen pada Juli setelah direvisi.
Pasar keuangan kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober sekitar 39 persen, turun dari sekitar 45 persen sebelum data PCE dirilis, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Sementara peluang kenaikan suku bunga pada Desember berada di level 90 persen.
Dolar AS melemah setelah data tersebut dirilis.
Namun, dolar mencatat penguatan bulanan sehingga membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar AS.
The Fed menggunakan indikator harga PCE sebagai salah satu acuan untuk mencapai target inflasi sebesar 2 persen.
Setelah menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75-4,00 persen pada bulan ini, bank sentral AS mengisyaratkan masih adanya kemungkinan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Emas secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi.
Namun, daya tariknya cenderung berkurang ketika suku bunga tinggi karena investor memiliki alternatif aset yang menawarkan imbal hasil.
Di sisi lain, harga minyak naik dan mencatat kenaikan bulanan yang signifikan setelah perundingan AS-Iran untuk mengakhiri perang kedua negara menemui kebuntuan.
Minimnya kemajuan dalam konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa harga energi akan bertahan di level tinggi.
Kondisi ini berpotensi memperpanjang tekanan inflasi dan mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat. (Aldo Fernando)