Harga Minyak Berpotensi Lanjut Naik, Analis Soroti Risiko Penutupan Selat Hormuz
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi pendorong utama pasar energi.
IDXChannel - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi pendorong utama pasar energi.
Harga minyak mentah dunia pada perdagangan Jumat (13/3/2026) lalu setelah Selat Hormuz tetap ditutup.
Namun para analis mewaspadai kemungkinan munculnya perubahan tak terduga terkait perang yang telah berlangsung dua pekan tersebut selama akhir pekan.
Kontrak berjangka (futures) minyak Brent untuk pengiriman Mei ditutup di level USD103,14 per barel, naik 2,67 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman April berakhir di USD98,71 per barel, menguat 3,11 persen.
Sejak penutupan 6 Maret, Brent telah melonjak 11,27 persen, sementara WTI naik sekitar 8 persen dibandingkan level sepekan lalu.
Analis FX Empire, Vladimir Zernov, menilai harga minyak berpotensi melanjutkan kenaikan jika konflik di kawasan tersebut semakin meluas dan jalur energi utama dunia tetap terganggu.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat setelah pemerintah Amerika Serikat menyatakan akan meningkatkan serangan terhadap Iran. Sementara itu, Israel dilaporkan melakukan sejumlah serangan udara di ibu kota Iran, Teheran.
Menurut laporan Reuters, Iran sempat mengizinkan dua kapal LNG asal India melintas di Selat Hormuz, namun jalur energi penting tersebut masih ditutup bagi sebagian besar kapal lain.
Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.
Di saat yang sama, laporan terbaru juga menyebutkan AS memindahkan satu unit ekspedisi marinir ke Timur Tengah, yang dipandang sebagai sinyal potensi eskalasi konflik.
Saat ini perang masih didominasi serangan udara, tetapi operasi darat akan menjadi eskalasi besar yang dapat mengubah dinamika pasar global secara signifikan.
Iran juga terus melancarkan serangan ke negara-negara Timur Tengah yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Sementara itu, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, belum terlihat di publik. Amerika Serikat menduga ia mengalami luka, meskipun ketidakhadirannya dinilai tidak memengaruhi kemampuan Iran dalam menjalankan operasi militer.
Zernov menilai pasar saat ini mulai bersiap menghadapi konflik yang berpotensi berlangsung lama. Menurutnya, masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa seluruh risiko sudah tercermin dalam harga minyak.
“Jika Selat Hormuz tetap tertutup selama beberapa pekan, harga minyak kemungkinan masih memiliki ruang kenaikan yang signifikan,” tulis Zernov.
Dari sisi teknikal, WTI saat ini mencoba bertahan di atas area resistance USD97,00-USD97,50 per barel.
Jika level tersebut berhasil ditembus secara meyakinkan, harga berpotensi melanjutkan kenaikan menuju kisaran USD103,50-USD104,00.
Sementara itu, minyak Brent Crude juga menguat karena pelaku pasar bertaruh bahwa Selat Hormuz akan tetap tertutup dalam beberapa pekan ke depan.
Keputusan International Energy Agency (EIA) untuk melepas cadangan minyak strategis ternyata tidak banyak memengaruhi pergerakan harga.
Zernov mencatat bahwa para trader cenderung mengabaikan langkah tersebut karena kekhawatiran pasokan masih sangat tinggi.
Di pasar fisik, para trader minyak di berbagai negara bahkan dilaporkan berlomba mencari pasokan minyak tambahan, yang menjadi sinyal kuat bahwa tekanan kenaikan harga masih bertahan.
Secara teknikal, Brent saat ini menguji area resistance di kisaran USD103,00-USD104,00. Jika berhasil menembus zona tersebut, harga berpotensi melanjutkan penguatan menuju USD108,00-USD109,00 per barel.
Meski indikator Relative Strength Index (RSI) menunjukkan Brent sudah berada di wilayah jenuh beli, Zernov menilai faktor teknikal menjadi kurang dominan ketika jalur energi utama dunia secara de facto mengalami gangguan.
Proyeksi Bank Global
Sejumlah bank investasi global memperkirakan harga minyak dunia masih akan bergerak volatil seiring meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah, terutama akibat konflik Iran dan gangguan pasokan energi di kawasan tersebut.
Melansir dari Reuters, bank investasi Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent Crude rata-rata akan melampaui USD100 per barel pada Maret. Namun, harga diperkirakan kembali turun ke sekitar USD85 per barel pada April seiring potensi stabilisasi pasar.
Menurut Goldman Sachs, lonjakan harga energi saat ini dipicu kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah serta gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.
Sementara itu, bank investasi Barclays juga menaikkan proyeksi harga Brent untuk 2026 menjadi USD85 per barel. Revisi tersebut didorong oleh gangguan pasokan minyak yang berkaitan dengan konflik Iran.
Barclays mencatat aliran minyak melalui Selat Hormuz saat ini turun drastis hingga hampir terhenti.
Di saat yang sama, penghentian produksi minyak di sejumlah negara Teluk dilaporkan telah melonjak hingga lebih dari 10 juta barel per hari.
Meski demikian, Barclays menyebutkan proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa situasi di Selat Hormuz dapat kembali normal dalam dua hingga tiga pekan ke depan.
Selama ketegangan geopolitik masih berlangsung dan jalur pasokan energi global terganggu, pergerakan harga minyak diperkirakan akan tetap sensitif terhadap perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah. (Aldo Fernando)